Kamis, 27 Maret 2008

Generasi Penikmat

Generasi Penikmat

Makasar, 21 Feb 2008, 23.20WITA

Mamaku bilang,

Hidupnya penuh perjuangan

Kegigihan menjadi napas tak terelakan

Hidupnya kini berkat kerja keras tiada lekang.

Bapakku bertutur,

Sejak kecil beliau hidup prihatin,

Keharusan bertahan hidup,satu-satunya bahan bakar

Suksesnya kini berkat usaha tiada letih.

Nenekku berkisah,

Di masanya dulu, tak semudah sekarang

Semua diraih dengan ketekunan

Tak ada keterpaksaan, sebab dengan itulah ia bertahan.

Kakekku menitipkan cerita,

Dirinya lalu, tak seperti di zamanku kini,

Keyakinan menciptakan ketegaran,

Ketegaran dipadukan kesungguhan,

Itupun mesti berkemampuan,

Kendati tak berdaya, rintangan dapat terelakan.

Menurutku kini,

Zamanku masa menikmati,

Tak mesti bertaruh hidup dan mati,

Semua tinggal menduduki.

Zamanku kini masa yang hampir mati,

Tak menumbuhkan hanya menuai hasil,

Tak menjaga hanya menggerogoti,

Tak membangun hanya mencerabuti.

Zaman ku kini generasi lupa diri,

Putus asa tak kuasa diri,

Menjilati tak tahu diri

Menikmati tak jaga diri,

Mencerabuti tak kenal diri,

Mengoreki tak ukur diri,

Tak sadar maka mengubur diri.....

Dasar generasi penikmat..!

Hujan

Hujan

1 November 2006

Hari ini adalah pembuka bulan november, saya jadi teringat dengan tembang lama berjudul “November Ceria” yang -- kalau tidak salah -- dilantunkan oleh Vina Pandu Winata. Ternyata banyak orang yang merasa optimis bahwa di bulan ini orang akan meraih kehidupan lebih baik, apalagi hari ini ternyata disambut dengan Hujan lebat yang selama ini sudah dinantikan orang. Betapa tidak, tahun ini hampir seluruh wilayah Indonesia didera kekeringan, termasuk di Bogor yang terkenal dengan Kota Hujan.

Kekeringan di Indonesia memang telah merugikan banyak pihak, terutama para petani yang harus menangguhkan penanaman padi dan tanamannya, sehingga nyaris tak ada penghasilan bagi mereka, belum lagi harga beras yang tidak memihak pada petani telah menambah beban hidup mereka. Dasyat benar memang kekeringan di tahun ini, bahkan di rumah sayapun harus membayar orang untuk mengangkut air guna memenuhi hajat hidup di rumah.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar… kekeringan ini rupanya telah membuat beberapa dari kita tidak sabar – semoga saya tergolong dalam orang yang sabar. Banyak yang Mencaci dan mamaki keadaan ini, padahal betapa nikmat Allah begitu banyak pada kita, tapi kita kurang mensyukurinya, baru sekedar kekurangan air saja banyak manusia yang sudah mencaci dan memarahi Tuhan.

Coba kita renungkan, setiap detik, terdapat nikmat Tuhan yang tak terhingga buat kita, dan kita tidah mensyukurinya. Ini ibarat pepatah “susu sebelanga rusak oleh nila setitik” atau juga relevan dengan “gajah di pelupuk mata tak terlihat, kuman diseberang lautan dapat terlihat”. Jadi mulai saat ini sadarlah bahwa kita harus segera bersujud syukur atas limpahan nikmat yang tiada henti dan tak terhingga, juga meminta ampun atas kekhilafan yang kita lakukan.

Kisah 2 Pohon

Kisah 2 Pohon

17 November 2006

Di tengah padang ada 2 pohon, 1 pohon bunga indah sekali, 1 pohon rindang berbuah tapi tidak indah, ketika pagi hari, ada yang datang dan melihat 2 pohon itu. Ia serta merta menghampiri bunga itu, memandanginya takjub. Tanpa terasa matahari semakin tinggi dan panas, akhirnya mau tak mau ia lari mencari perlindungan, kemana ia lari ? kenapa harus ke sana?

Jawabnya:

“yang datang” itulah wanita, “2 pohon” itulah 2 orang pria dengan 2 kondisi yang berbeda, “Matahari” itulah realita hidup yang wanita jalani, “pada akhirnya” begitulah akhirya…..

inilah SMS yang aku terima dari Guruku yang tak hanya ingin kuanggap sebagai teman, inilah realita hidup yang ia jalani, dan selama ini amat berbekas dalam setiap langkah yang ia jalani, bagiku Fifty-fifty yang bisa kuterima sebagai bagian kebenaran dari pemikirannya.. selebihnya, ternyata masih banyak ‘bidadari surga’ yang siap menemani kita apa adanya…. Menuju kehidupan bahagia dunia dan akhirat…

Lagi tentang aura senin

Lagi tentang aura senin

20 Nov 2006, Senin.

Masih ingat dengan “Aura Senin”?. Ya, itu adalah perasaan tidak senang ketika akan masuk kerja pada hari senin. Alhamdulillah pada hari ini (senin), aura senin ternyata tidak datang pada saya, bahkan saya sangat rindu untuk masuk kerja karena ada beberapa aktifitas yang rindu untuk saya kerjakan.

Menyambut hari ini, saya melakukan ritual doa seperti hari biasanya, doa yang saya ucapkan adalah “Bismillahi Tawakaltu A’la Allah Laa haula walaa quwwata illaa billahi al-Aliyyil adzim”. Itukan doa akan bepergian..? Ya, mungkin itulah protes yang keluar dari mulut anda begitu mendengar do’a saya. Ya memang itu adalah doa bepergian, tapi coba anda telaah artinya “dengan –menyebut—nama Allah, saya berserah diri pada Allah, tiada daya dan upaya bagiku, kecuali dengan kuasa dari ALLAH”. Doa ini telah menjadi obat manjur bagi saya untuk meniadakan ketidakberdayaan saya menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan yang keras.

“Ya Allah, Engkau Maha Kuasa, tak ada kuasa selain dengan izin-MU

Ya Allah, Tangan-MU di atas tangan-tangan kami..

Kemurahan hatimu, menandakan rahmat-MU tiada terkira

Kekuasaan diri-MU, meniadakan kuasa dari selain-MU

Hidayah-Mu menyirami kerontang hati kami.

Ya Allah, Tetaplah bersamaku sampai Ajal menjemputku kelak..

Hati-Hati dengan HATI-mu..!

Hati-Hati dengan HATI-mu..!

My Diary :27 November 2006.

Allah membalikan kau dari satu perasaan ke perasaan yang lain, dan mengajarkan melalui yang berlawanan, agar kau memiliki 2 sayap untuk terbang, bukan satu”.

Lagi, di pagi buta, saya menerima SMS dari Imandira. Kali ini berkaitan dengan Hati, atau biasa juga disebut dengan Kalbu atau Qalbu. Kalbu, memiliki 2 makna derivatif. Makna pertama adalah kalbu secara makna fisik orang biasa mengartikannya sebagai Hati, padahal makna sesungguhnya dari hati secara fisik adalah “jantung” yang memompa darah untuk mengaliri seluruh tubuh.

Makna yang kedua adalah Kalbu secara maknawi yang biasa orang sebut juga dengan Hati atau perasaan, padahal makna yang kedua ini lebih dari sekedar perasaan, sebab kalbu disini adalah pusat dari diri seseorang. Di dalamnya berkumpul segala macam kebaikan dan keburukan, didalamnya tercermin nilai diri seseorang dan terpancar segala hasil daya dan upaya manusia untuk meraih nilai dirinya di mata Tuhan. Kalbu dengan makna kedua inilah yang menjadi bahan kajian para sufi, sedangkan kalbu dengan makna yang pertama menjadi bahan kajian ilmu kedokteran.

Kalbu (secara non-fisik) adalah sesuatu yang abstrak tapi nyata. Kita tidak bisa melihat dan menunjukan bentuk dan jasad kalbu, tapi kita bisa mengetahui bahwa itu nyata. Seperti halnya rasa, saat kita putus cinta, kita akan merasakan sakit, kesal, marah, kecewa, dll tapi kita tidak bisa melihat bentuk dan warna dari rasa tersebut. Atau saat kita jatuh cinta, kita akan merasa senang, bahagia, tapi kita tidak bisa melihat bentuk dan warna dari cinta itu sendiri.

Keyakinan lain berkaitan dengan hati adalah gambaran hadits tentangnya, bahwa

“Sesungguhnya Allah tidak melihat tampilan fisikmu, melainkan melihat pada hatimu..!”

AURA SENIN

“Aura Senin”

Jakarta, 30 Oktober 2006

Hari ini adalah hari pertama masuk kerja pasca libur Hari raya Idul Fitri. Libur lebaran kali ini memang lumayan panjang – 10 hari, tapi tetap saja ada beberapa rekan kerja yang belum merasa cukup, buktinya beberapa meja di ruangan saya masih ada yang kosong, itu tandanya mereka minta tambahan libur dengan mengambil jatah cuti yang memang sudah menjadi haknya.

Mengawali Hari pertama ini saya harus bangung jam 4.30 untuk kemudian bersiap berangkat ke kantor, sebab jam 4.50 WIB saya sudah harus berangkat kerja. Sepagi itukah…? Ya tentu saja, sebab saya harus berangkat dari Rumah saya – sebenarnya rumah orang tua saya – di Tangerang, perjalanan dari rumah saya ke kantor sekitar 2 jam itupun kalau lancar, maklumlah saya kan orang pinggiran rumah saya ada di pelosok Tangerang, bahkan berbatasan dengan kabupaten Serang (Ibukota Banten). Memang sangat melelahkan jika tiap hari harus bangun jam 4.50, itulah sebabnya saya sekarang kost di daerah Kelapa Gading, yang jaraknya sekitar 10-15 menit dari kantor. Dan hanya seminggu sekali saya pulang ke Tangerang. Saat masuk kantor seperti sekarang tentunya menyisakan energi kemalasan dalam diri saya, satu sisi saya masih sangat rindu untuk bangun siang, banyak istirahat, dan bercengkrama dengan keluarga, tapi apa boleh buat, hari ini saya harus ‘membunuh’ energi kemalasan yang mulai tumbuh di diri saya bak cendawan di musim penghujan.

“Aura Senin” begitulah saya sebut hari ini, sebab bagi banyak orang menganggap senin adalah hari yang paling berat dari 6 hari lainnya dalam 1 minggu, maka bagi orang kantoran slogan “I don’t like Monday” bukanlah hal yang asing, terlebih lagi setelah melalui liburan panjang maka ‘aura senin’ semakin terasa. Hal ini timbul mungkin dikarenakan pada hari senin orang akan kembali menjalani rutinitas kerja yang berat selama 5-6 hari kerja ke depan, padahal hari sebelumnya kepenatan sudah dihilangkan dengan libur. sehingga hari senin sebagai awal pekan jadi terasa sangat berat menghadapinya “all start is difficult” begitu kilah orang.

Begitu beratnya menghadapi “aura senin”, sudah dua hari ini saya terbayang akan beban pekerjaan yang saya akan hadapi saat masuk kerja, padahal bayangan ini telah menyita kenyamanan liburan saya, tapi kemudian saya teringat oleh kata-kata seorang bijak bahwa “liburan indah anda akan segera berakhir begitu anda memikirkan pekerjaan” ucapan itulah yang kemudian membangunkan saya dari lamunan tentang beratnya pekerjaan, jalani hidup apa adanya, jangan memikirkan sesuatu diluar proporsi dan kondisi. Likulli maqaamin maqaalun, wa likulli maqaalin maqaamun. Memikirkan pekerjaan pada saat liburan bukanlah sesuatu yang tepat, begitu pula halnya dengan memikirkan liburan dan takut kerja di saat harus bekerja juga bukan tindakan yang bijaksana.

Thanks God Today is a new day…” Begitulah Slogan yang selalu di kumandangkan teman kantor saya, dan slogan ini pula yang pada hari ini saya pakai untuk menghadapi beratnya “Aura Senin”. Sebenarnya banyak cara untuk melenyapkan aura senin, diantaranya adalah komitmen dan positif thinking. Komitmen adalah keinginan dan kerja keras untuk mencapai apa yang diinginkan, sedangkan positve thinking adalah memandang sisi baik dari setiap kejadian. Komitmen akan menjadi sumber energi dan ruh dari setiap pekerjaan, komitmen juga layak disebut sebagai niat, yang posisinya menentukan hasil dari sebuah pekerjaan. Jika sebuah pekerjaan dimulai dengan komitmen buruk, maka buruk pula hasilnya apapun hasil dan bentuknya. Tapi apabila sebuah tindakan diawali dengan komitmen yang baik, maka hasil kebaikan yang akan kita tuai apapun hasil dan bentuknya. Karena menurut kepercayaan saya, bahwa orientasi nilai menurut islam adalah berdasarkan Proses bukan hasil, sedangkan sebuah proses akan dimulai dari membangun fondasi awal yaitu niat. Maka untuk hari ini niat saya adalah “Lillahi Ta’ala”. Semua diniatkan ibadah untuk Allah, sebab semua yang diniatkan untuk Allah akan berefek kebaikan dunia dan akherat, sedangkan yang diniatkan bukan untuk Allah maka tidak akan memberikan efek ibadah untuk dunia dan akherat.

Mengenai positive thinking, saya lebih tertarik untuk menyebutnya optimisme yang merupakan antonim dari kata pesimisme. “Orang pesimis akan memandang kesulitan di setiap kesempatan, sedangkan seorang yang optimis akan melihat kesempatan kendati dari sebuah kesulitan.“. Hari ini, besok bahkan seumur perjalanan hidup kita akan sangat sulit kita jalani jika kita selalu berpikiran buruk. Bagi seorang yang pesimis, setitik tahi lalat di wajah akan dianggap sebagai kotoran yang harus di bersihkan, beda halnya orang yang optimis, akan memandang tahi lalat sebagai pemanis wajah yang apabila dihilangkan maka akan mengurangi keindahan sebuah wajah.

Untuk itulah pada hari ini, saya ingin melawan “aura senin” dengan senjata ampuh saya yaitu “komitmen dan positive thinking”. Dan hasilnya, Alhadulillah cukup sukses. Ditambah lagi pada hari pertama ini saya ikutan acara Halal bi halal beserta seluruh karyawan Astra International di Head Office, acara ini tentunya menambah bahan bakar perjuangan saya untuk menjalani hidup lebih baik dunia dan akhirat.

Tersenyumlah

TERsenyumLAH

31 Okt 2006

Sore ini saya pulang kantor jam 17-an, agak telat setengah jam dari jam pulang kantor resmi yaitu 16.30 WIB, dan hal tersebut tidak pernah dipermasalahkan oleh perusahaan karena bagi perusahaan semakin telat anda pulang, maka semakin rajin anda bekerja, kecuali jika anda telat datang ke kantor, baru akan berakibat buruk buat anda, apalagi kalau istri dan anak anda menanti dirumah kemudian anda telat pulang padahal jam anda pulang kantor TENG-GO / TENG-BUR (istilah teman-teman kantor buat orang yang selalu pulang on-time – akronim dari begitu TENG langsung GO / Begitu TENG langsung KABUR), wah bisa gawat tuh… ayo mampir dimana? He he…… Jadi, pulang telat sedikit itu gak masalah, apalagi di kantor saya masih banyak teman yang belum pulang karena masih banyak kerjaan yang sudah deadline dan kejar tayang. Memang kebiasaan di kantor saya, pulang jam 17.00 masih terbilang TENG-GO sebab di sini semua orang punya rutinitas dan kewajiban kerja yang menumpuk sehingga tidak mengharuskan mereka untuk bekerja ekstra-time, inilah dunia kerja yang sesungguhnya. – kata orang, inilah mencari hidup di dunia terikat seperti di penjara –

Seperti biasa, saya pulang dengan menumpang mobil POOL kantor yang disediakan untuk mengantar pulang karyawan tukang numpang seperti saya sampai pinggiran jalan raya. Selanjutnya, perjalanan pulang saya lanjutkan dengan naik metromini 07 jurusan Semper-Pasar Senen, hampir semua angkutan kota di Jakarta memang laris penumpang apalagi di jam pulang kantor, termasuk metromini yang saya tumpangi selalu saja penuh, untungnya saat saya naik, saya ketiban rezeki bangku kosong dari penumpang yang baru saja turun, jadi saya bisa duduk, sedangkan penumpang lainnya yang sudah naik terlebih dahulu mungkin keki melihat saya yang baru saja naik langsung dapat tempat duduk,sedangkan dia harus tetap berdiri padahal sudah berdiri sebelum saya naik. He he saya sedikit egois kan? Tapi gak apalah, karena memang posisi saya adalah paling dekat dengan bangku kosong tadi, jadi inikan rezeki saya… apalogi ni ye…

Perjalanan metromini menuju gang kost sekirar 10-15 menit, kesempatan ini ternyata cukup buat saya untuk melamun. Dengan mata menerawang saya perhatikan wajah para penumpang metromini dan wajah para calon penumpang yang sedang menunggu angkutan. Sekilas saya amati raut muka dan mereka, pria-wanita, tua-muda, kurus-gemuk tak ada yang lepas dari pengamatan kilat saya, semuanya berbeda, tak ada yang mirip atau terkesan kembar, tapi ada satu kesamaan yang menyatukan mereka yaitu: tak ada satupun yang TERSENYUM.

Dalam hati saya bertanya, begitu mahalkah senyum saat itu? Sedemikian beratkah hari ini sehingga dipenghujung hari, harus diakhiri dengan cemberut dan bermuram durja. Memang, orang yang tidak tersenyum, belum tentu mereka tidak gembira, dan tidak semua orang yang tersenyum itu gembira, sebab bisa saja orang yang patah hati membuat senyum lebar bagi orang lain kendati hatinya tersayat, atau orang yang gembira menahan senyumnya agar tidak terkesan ……GILA..…. senyum-senyum sendiri. Tapi saya sangat percaya bahwa raut wajah mencerminkan diri.

Raut wajah tidak berkaitan dengan jelek dan cantik, hitam dan putih, kurus dan gemuk, atau muda dan tua, raut wajah yang saya maksud adalah ekspresi perasaan lewat wajah, bahkan orang lain menggolongkannya ke dalam teknik komunikasi nonverbal. Orang yang kecewa bisa saja tersenyum, tapi senyum akan terasa hambar, orang yang gembira bisa saja menahan senyum, tapi kegembiraannya akan terpancar lewat sorot mata dan raut mukanya yang berseri.

Anda yang telah berkerja seharian pasti merasa lelah, tapi haruskah kelelahan tersebut anda pancarkan lewat menekuk wajah dan menahan senyum? Mungkin anda sudah dibuat mumet dan pusing oleh segala macam masalah kantor yang mendera, tai haruskah hal tersebut mengikis keceriaah wajah anda. Bisakah anda tersenyum dengan tulus dan lepas, kalau anda sudah bisa melakukannya maka anda adalah orang yang bahagia, sebab senyum tulus dan lepas tidak bisa dihasilkan oleh mereka yang negatif thinking, bersedih, pusing, bermasalah, dan sakit hati. Percayalah bahwa seyum anda akan memberikan optimisme dan kebahagiaan bagi anda, karena senyum yang indah dan raut muka yang sejuk hanya bisa dihasilkan oleh optimisme dan positive thinking.--percayalah, atau cobalah maka anda akan percaya

--- Selalu ada sepotong bahagia dari belahan senyum anda ---