Tampilkan postingan dengan label PERJALANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERJALANAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Maret 2008

Palembang, I’m Coming...!


Palembang, I’m Coming...!

Palembang, 9 maret 2008

Hari ini adalah hari pertama saya di Palembang dan kali ke-4 saya dinas di Palembang. Perjalanan Jakarta-Palembang terasa sangat singkat, baru saja para pramugari Garuda menyuguhkan hidangan,tak lama kemudian announcement kedatangan di Palembang sudah didengungkan. Ya itulah manfaat positif dari kemajuan teknologi, tak terbayangkan oleh saya jika harus melakukan perjalanan tanpa kendaraan bermesin seperti mobil dan pesawat. Tentu perjalanan ke Palembang tidak akan memakan waktu 1 jam seperti sekarang melainkan berhari-hari dan melelahkan.

Setiap menjalani perjalanan hidup,saya selalu berusaha mengambil daya tariknya sendiri, selalu ada kejadian yang amat menarik untuk dicatat dan dijadikan hikmah. Khusus di Palembang kali ini, daya tarik terbaru adalah dari kembalinya gairah pemerintah kota Palembang untuk menghidupkan gemerlap pariwisata di Palembang. Belum lekang dari ingatan saya, pada akhir 2007 yang lalu, Pemerintah kota Palembang me-launching program pariwisata ’VISIT MUSI 2008’ yang dibuka dengan sebuah event megah, hingga melibatkan beberapa stasiun TV nasional yang menyiarkan secara langsung prosesi tersebut.

Sempat menggelora rasa penasaran saya untuk segera melihat dan merasakah aura perubahan Palembang setelah Visit Musi digelar, walhasil tiba juga saya menyaksikan perubahan tersebut. Apakah perubahan tersebut sepektakuler? Ternyata hati saya bergidik, ”Lumayan Juga..!” walau tak seperti ekspektasi awal saya yang mendamba sebuah perubahan sepektakuler di kota pempek ini.

Perubahan yang paling nampak dari Visit Musi ini adalah dibuatnya beberapa taman dan area lapang serbaguna di kolong jembatan ampera di sisi Sungai Musi. Sungai dibuat sedemikian bersih dengan tempat parkir kapal yang diatur rapih. Perubahan lainnya adalah mulai dibangunnya jalan layang di jalan dekat akses ke bandara yang – seingat saya – sejak 8 bulan yang lalu sudah mulai dirintis, tapi belum rampung sehingga hanya menyisakan kemacetan dan pengalihan arah lalu lintas.

Perubahan lainnya? Air mancur di depan mesjid Agung yang selama ini dibiarkan teronggok tak berjalan, kini mulai diaktifkan kembali. Batin saya berkata ”gitu donk, masak sich dibuat hanya untuk menyambut Megawati –saat itu masih menjabat Presiden yang datang meresmikan PON – kemudian dibiarkan tak terurus..!”

Apalagi yang berubah? Banyak..! Jalanan semakin macet, pengemis dan anak jalanan semakin nyata terlihat, mall semakin ramai pengunjung, pasar tradisional semakin terpinggir, angkot membludak, kendaraan menjamur, dan yang juga nyata terlihat adalah gaya hidup metropolis mulai menjamah para penduduknya terutama anak muda. Yang jelas ini semua adalah ciri khas dari kota yang sedang merangkak berkembang termasuk Palembang.

Itulah sedikit kesimpulan pengamatan saya mengenai kota dengan ikon jembatan Ampera ini. Sangat subjektif memang, dan tidak bisa merepresentasikan seluruh kondisi yang ada di Palembang. Tapi paling tidak inilah sudut pandang saya ’pendatang’ yang belum sempat menjajaki seluruh pelosok kota ini.

Satu hal yang cukup melegakan hati saya adalah testimony dari seorang penduduk asli palembang yang mengatakan ”kita sekarang tidak lagi merasa minder dan malu menjadi orang Wong Kito Galo..!, Palembang sudah maju pesat dibandingkan beberapa tahun yang lalu”.

Mhmm.. memang seperti inilah mestinya pembangunan, harus dirasakan langsung secara positif oleh mereka yang tinggal di dalamnya” batinku.

Biarkanlah Palembang dan seluruh penduduknya berjuang memajukan kota tercinta mereka. Sebagai seorang pendatang sesaat, saya tidak ingin mencampuri urusan mereka, apalagi sekarang di kota ini sedang marak kampanye pilkada Gubernur, yang setiap calon menebar janji muluk, dengan program yang bombastis. Saya hanya bisa berdoa, semoga mereka mencatat setia ucapan, rencana, dan janji mereka selama kampanye. Sebab janji adalah hutang...! semakin banyak orang yang diberikan janji, maka semakin banyak hutang mereka bagi konstituennya, semua janji itulah yang akan dimintakan pertanggung jawabannya kelak di Akherat.

Mulutmu harimaumu..! ucapan seringkali meluncur deras bak peluru senapan, sulit ditangkap, tak terlihat, tapi amat besar dampaknya. Semoga mereka menyadari dan mencatat semua ucapan mereka.

Saat kampanye rakyat dijunjung, saat terpilih rakyat tak dikunjungi. Saat kampanye rakyat di undang bertemu, sesudah menang rakyat tak bisa bertemu. Semoga saja kejadian berulang di setiap daerah di Indonesia tak terulang di Kota ini.

Satu lagi harapan saya, semoga penduduk kota ini tetap dijaga keimanan dan ketaatan mereka terhadap agamanya. Semoga mereka dapat merasakan nikmatnya hasil pembangunan dan jerih payah setiap usaha mereka. Dan jangan sampai mereka dirundung kekecewaan atas efek negatif deras laju pembangunan.

”Palembang I’m Coming...” bisikku dalam hati.

Tutup Pintu Setan

Tutup Pintu Setan

Palembang, 12 maret 2008

Malam ini, selepas menyantap pindang Shopia di Plaju dan menikmati duren di pasar Kuto, kini tiba waktunya aku kembali ke Hotel dan mempersiapkan diri untuk training esok hari.

Sesampai di kamar, saya nyalakan TV dan membuka laptop untuk me-refresh materi training esok hari. Di tengah keasyikan saya ’berkencan’ dengan laptop, tiba-tiba tersirat sekelebat ingatan mengenai sahabatku yang kemarin malam sedang gundah gulana itu terlihat dari SMS-nya yang berisi “Knflik btin gw kumat lg nih, kdg gw g kuat org lain ngnggp gw tnp prikemanusiaan, mnjd hnrr = siap mnghmbkn dr. Ya Allah, apkh hmb trmsk yg brilmu drjtnya?”

Apakah dia sudah kembali tenang? Apakah kegundahannya telah terobati? Apakah gerangan penyebab hal tersebut? Setahuku, Sahabatku seorang dengan tingkat intelektual tinggi, semangat yang membara, keteguhan hati yang tak tergoyahkan, dan tak pernah secara nyata kulihat dia gundah seperti ini. Ada apa denganmu?

Sejenak kurenungkan sebuah nasihat dari guruku, bahwa setan tak akan menyerah untuk menjerumuskan manusia ke lubang kenistaan. Genderang perang tak pernah berhenti ditabuhkan untuk meruntuhkan benteng keimanan manusia. Hal inilah yang disebut dengan perang abadi antara kebaikan dan kejahatan. Lalu apakah sahabatku itu telah kalah berperang?

” Setan akan selalu mendatangi manusia dari berbagai arah pintu. Mereka datang dari depan, belakang, kanan dan kiri selama kita bisa menutup pintu masuk itu, maka kita tidak akan pernah kalah dalam perang. Dan ada arah pintu yang tidak akan bisa di lalui setan, yaitu pintu dari bawah dan pintu dari atas” tambah guruku.

Apa yang dikatakan guruku itu bukan sebuah nasihat yang dapat ditelan mentah-mentah, melainkan nasihat yang memiliki makna filosofis. Setan memang akan datang dari depan kita dengan beragam cara dan tipu muslihat, semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin tinggi tingkat godaan yang akan diberikan oleh setan. Hebatnya lagi, setan sangat mengetahui titik kelemahan iman kita, dan hal tulah yang akan dimanfaatkan olehnya untuk menjerumuskan kita.

Setan memang akan datang dari depan kita. Ini kaitannya dengan kelemahan manusia yang terobsesi untuk mencapai keinginannya di masa depan. Nafsu manusia cenderung mendorongnya untuk mengenyam kenikmatan dalam hidupnya, bahkan orientasi mereka untuk memupuk kekayaan, kehormatan dan mempersiapkan hidup bagi kejayaan diri dan keluarganya di masa depan. Hal ini lah yang dimanfaatkan setan untuk menggoda manusia memenuhi setiap keinginannya itu, manusia dijadikan budak untuk mengejar obsesi dan keinginannya dengan menghalalkan segala cara. Hitler, Napoleon Bonaparte, Alexander the Great, Qorun, Fir’aun Ramses II adalah beberapa contoh besar dari mereka yang diperbudak oleh nafsu memupuk kekayaan, kejayaan, kehormatan, kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara. Para koruptor, perampok, penjudi, pemelihara tuyul, adalah contoh lain dari mereka yang menggadaikan Hidup demi keinginannya.

Datangnya setan dari sebelah Kiri mengisyaratkan bahwa setan senantiasa menjerumuskan manusia untuk berbuat sesuatu yang keji dan mungkar, seperti membunuh, mencuri, dan perbuatan lainnya.

Sedangkan kedatangannya dari kanan menyiratkan makna bahwa banyak manusia yang selalu berbuat baik dan susah bagi setan untuk menggodanya. Tapi setan tak habis akal, dia akan datang menggoda manusia untuk berbuat baik dengan diwarnai sikap riya, sum’ah, takabur dan hasud. Riya adalah sikap memperlihatkan segala kelebihan yang dimilikinya, baik berupa harta, tindakan, maupun isyarat. Sum’ah adalah menyebutkan segala kelebihan yang dimiliki. Sedangkan hasud adalah rasa iri dan dengki. Hal ini ternyata banyak menghinggapi para kaum yang berilmu, bahkan para ulama sekalipun. Itulah sebabnya tak ayal kita temukan para ulama saling menghujat dan mendeklarasikan dirinya paling benar. Meminjam istilah Cak Nur ”ingin masuk surga dengan mendorong orang lain ke neraka”

Susah memang menghadapi setan dan segala tipu muslihatnya. Mereka memiliki sebuah visi yang panjang dan tak menyerah sebelum hingga visi itu tercapai. Visi mereka adalah menjadikan kita sekutu mereka di dunia dan menemani di Akhirat. Akankah kita bisa bertahan dan lebih kuat mempertahankan pencapaian visi kita? Semoga saja... semoga saja.. aamiin...!

Setan datang dari kanan, kiri, atas, dan bawah. Lalu bagaimana mungkin mereka tak bisa masuk dari bawah? Jawabannya singkat saja ”bukankah tugas setan selesai ketika kita sudah terkubur di liang lahat?” ya, setelah kita meninggal maka terputuslah hubungan kita dengan mereka, yang tersisa hanya pertanggung jawaban kita dengan Tuhan.

Kunci utama yang mesti kita pegang teguh adalah dengan membuka pintu dari atas selebar-lebarnya, sebab dari sanalah setan tak mungkin memasuki diri kita. Artinya, jika kita berpegang teguh – istiqomah, di jalan Allah, maka setan takan sekalipun mengganggu kita. Ingatlah pada Allah di saat kita duduk, berdiri, berjalan, bahkan terbaring. Jalankanlah segala syariat-Nya dengan baik dan benar, maka kita akan selamat dari persekutuan dengan setan. Nestapa dan duka, semuanya indah, tentram, dan nyaman.

Jika kita berpegang teguh dengan ikatan dengan Tuhan, maka yang kita akan dengar kelak adalah panggilan terindah dalam hidup berupa ”yaa ayyutuha an-nafsu al muthma’innah, irji’ii ilaa robbiki raadhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fii ’ibaadii wadkhulii jannati..”

Nikmatnya Hidup

Nikmatnya Hidup

Makasar, 21 Feb 2008, 23.00WITA

Hari ini cukup berat kulalui,

Seberat dulu yang pernah kutak ingin lalui,

Selalu ini terulang untuk dilalui,

Jika begini terus tak ada nikmat yang kucicipi.

Itulah sekelumit kisah hari ini, setelah banyak hari aku lalui tanpa kesulitan, kini kembali aku rasakan ketidaknyamanan menjalani hidup. Menjalani beratnya hari ini kuteringat pertanyaan sederhana dari seorang adik tingkat kuliahku, ”kakak kok keliatannya selalu optimis dan tidak pernah kendur semangat, boleh tahu resepnya??”.

Mmhhmm... sebenarnya malu juga mendapat pertanyaan ini, ternyata selama ini aku sukses memerankan sebuah sandiwara dunia ini. meminjam istilah temanku, aku sukses memerankan tokoh dalam topeng kehidupan.

Selama ini aku memang tak pernah mau menunjukan isi perasaanku. Dimanapun, kapanpun, bagaimanapun, siapapun, dengan alasan apapun saya tidak ingin menunjukan perasaan negatif pada setiap orang yang aku temui. Selalu saja aku memunculkan tampilan positif dalam kondisi apapun saat berinteraksi dengan orang, walaupun kadangkala beratnya hempasan gelombang rasa tak sanggup aku sembunyikan dalam tampilan nyata.

Munafikkah aku saat menyembunyikan rasa negatif diriku? Terserahlah.. yang pasti kutak ingin kesedihanku membuat orang lain sedih, kelelahanku melahirkan peluh di kawanku, kesakitanku mengaduhkan sahabatku, atau kesulitanku menghambat laju rekanku. Semua kupendam sendiri, karena bagiku menyebarkan aura negatif, sama saja membuat orang lain menderita dan itu DOSA... Biarlah air mata hanya mengalir deras dalam pelupuh hatiku, asalkan jangan membanjiri pipi orang disekitarku.

Mengingat pertanyaan adik tingkatku, seperti merekonstruksi labirin kenanganku atas jawab yang pernah kulontarkan padanya dulu. Semoga saja hal itu sekaligus menjawab gejolak batin yang kurasakan kini.

Berikut beberapa serpihan hikmah yang pernah saya utarakan untuknya :

Neng... – biasanya kupanggil dia dengan nama, tapi kutulis saja ’neng’ dalam tulisan ini – tak ada seorangpun yang lepas dari masalah, setiap manusia pasti pernah merasakan rintangan, tapi semua itu tak akan melampaui kemampuan kita sebagai manusia. Kalaupun ada yang tidak kuat dan putus asa menghadapi masalah, yang jelas bukan karena masalahnya yang terlalu besar, melainkan dia membatasi kemampuan dirinya dalam melalui masalah.

Neng... masalah adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, bukankah Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan? Nah, masalah ada salah satu pasangan hidup kita, yang juga dipasangkan dengan solusi dalam hidup. Jadi, masalah pasti datang datang pada kita,tapi selalu disertai pasangan nya yang setia yaitu Solusi.. jadi tugas kita adalah menjadi Comblang dari Masalah.. untuk dikawinkan dengan Solusi.

Neng... semua dalam hidup kita tergantung pada sudut pandang dan tindakan kita terhadapnya. Cara pandang kita menentukan apa yang akan kita lakukan, dan apa yang kita lakukan menentukan hasil yang akan kita raih. Jika kita berpandangan negatif, maka tindakan kita akan negatif, hasilnyapun tak pernah berakibat positif.

Untuk itu, cobalah mulai merubah sudut pandang kita..! jangan lagi berkata ’susah’ tapi ’ini tantangan yang menarik’, hindari ’saya tidak bisa’ gantilah dengan ’saya akan mencoba’, bukan ’gagal’ tapi ’keberhasilan masih tertunda’..

Neng... semua penderitaan yang kita rasakan akibat ulah kita sendiri, lebih menyakitkan jika penderitaan itu muncul dari salah pandangan mata. ’melihat pada yang lebih tinggi dalam urusan dunia, memandang pada yang lebih rendah dalam urusan agama’ adalah pintu gerbang penderitaan yang pertama...

Neng... Jangan sesali apa yang kau raih, tapi syukuri..! sebab, hanya keledai yang selalu menganggap bebannya terberat dan hidup orang lain lebih nikmat. Jangan ikuti mereka yang menganggap rumput tetangga lebih hijau, rumah orang lebih megah. Sebab semuanya kembali kepada kepuasan diri. Dalam pepatah Arab pernah dituturkan ”idzaa maa kunta dza qolbin qonuu’in, anta wa maaliku ad dunya sawaaun – kalau hati kamu merasa puas, maka anda telah menjadi raja di dunia ini”

Neng... kalau mau jujur, neng pasti bingung kenapa neng menderita dan tak merasa senang saat ini. Semua ini karena kita sering menganggap masalah pada sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan. Apalagi jika masalah yang muncul diakibatkan rasa dengki pada orang lain, bukankah kedengkian itu melahap rakus setiap kebaikan layaknya api unggun yang melahap habis kayu bakar

Neng... seringkali kita sangat dekat pada Tuhan saat kita merasa menderita, dan menjauh saat kita gembira, konyolnya itu dilakukan terus menerus. Tak ada salahnya anda dekat pada Tuhan, hanya saja ketidak konsistentan anda lah yang salah.

Neng... kadang kita juga merasa kesal pada Tuhan, karena merasa DIA tidak adil, atau lelah karena permintaan kita tak pernah dikabulkan padahal setiap saat kita mengetuk pintu kabul-NYA. Camkanlah neng.. ”Andaikan saja semua doa kita dikabulkan Tuhan, maka yang terjadi tidaklah lagi kemaslahatan. Tidak semua ketulusan doa kita dikabulkan Tuhan, tapi yakinlah bahwa apa yang ditakdirkan Tuhan adalah yang terbaik menurut-Nya untuk kita.”

Neng... bukankah kita ini dibesarkan oleh masalah? Kita bisa bertahan hidup karena pernah merasakan sakit yang sukses kita lalui dan menjadi imun terhadap sakit yang sama. Masalah yang kita hadapipun membuat kita lebih tegar dan sukses menghadapi masalah yang sama. Walaupun pada kenyataannya banyak yang terjeblos pada lubang yang sama berkali-kali, tapi bukankah Tuhan selalu memberikan kita kesempatan untuk memenangkan perhelatan itu? Memang sich kita seperti keledai jika selalu terjebak dalam kesalahan yang sama berulang-ulang, tapi itu lebih baik ketimbang menjadi semut yang mati di gudang gula.

Neng... perubahan dalam hidup itu tidak ada yang sekejap, semuanya datang secara bertahap dan alami, bersabarlah meraih perubahan dalam hidup, sebab semakin kita sabar semakin baik hasil yang kita perolah. Seperti halnya kerang mutiara yang harus menahan sakitnya tusukan batu pasir di rongganya, kesabarannya membuahkan mutiara indah yang mahal. Atau layaknya keramik indah yang harus menahan derita hempasan, pukulan, pembakaran dan pengecaran yang memuakan, hasilnya sebuah guci keramik yang indah berharga mahal. Atau intan berlian, rubi, mirah delima, emerald, dan batu mulia lainnya yang harus dikikir dan digosok untuk menemukan keindahan sejati yang terpendam di dalamnya.

Neng... penderitaan itu hanya datang bagi mereka yang obsesif dan tak bersyukur. Mereka disiksa oleh dahaga nafsu yang tak pernah terhapuskan. Satu gunung emas mereka miliki, tak cukup membuatnya bahagia sebelum dua,tiga,empat bahkan seluruh dunia mereka miliki, selama itu pula mereka tak merasa bahagia dan menjadi budak bagi keinginannya sendiri.

Neng... mereka yang bahagia adalah mereka yang merasa puas dengan apa yang mereka miliki, kendati mereka tak memiliki apa-apa – hati yang puas itulah harta berharga yang tak terbeli oleh apapun kecuali meraihnya sendiri. Sebaliknya mereka yang mempunyai segalanya tapi tak puas karena ingin meraih segala keinginan, sesungguhnya merekalah orang yang paling menderita.

Neng... hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dengan derita dan air mata. Terlalu mubazir jika energi kita habis untuk kesia-siaan. Bukankah manusia yang terbaik adalah mereka yang paling banyak berkontribusi bagi kehidupan orang lain. Untuk itu, segera benahi diri kita, untuk berbuat bagi kehidupan dunia yang lebih baik.

Neng... hidup ini mudah, jadi buat apa dipersulit, nikmati sajalah... Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti Lillahi Ta’ala.

Mhmmm terkuak sudah resep penyembuh gundahku malam ini. Kini, kubisa menutup mata dengan ringan, kubisa pejamkan mata dengan keteduhan, tak ada beban, tak menanggung hutang, tak bergundah gulana, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang indah, atau paling tidak, tidurku akan dihiasi mimpi yang indah.

Terra Incognito

Terra Incognito

Lombok: 23 nov 2007

Pernahkah kita membayangkan sebelumnya bahwa kehidupan yang kita jalani adalah seperti saat ini? Sebagian besar atau bahkan hampir semua dari kita tidak pernah menyangka bahwa akan menjalani kehidupan seperti ini, tidak seperti apa yang pernah kita bayangkan sebelumnya.

Saat kita masih kecil, seringkali orangtua atau guru kita bertanya tentang cita-cita, jawaban kita saat itu sangat beragam, ada yang ingin menjadi dokter, pilot, astronot, tentara, presiden atau profesi lainnya yang kita anggap sangat menarik atau terlihat sangat hebat. Entah apa dasar kita dulu, saat menentukan cita-cita masa kecil atau remaja. Yang jelas, cita-cita sebagai dokter adalah cita-cita favorit saat itu, bahkan tidak hanya anak yang ingin bercita-cita demikian, seringkali orangtua jugalah yang mensugesti anaknya bercita-cita demikian. Mungkin profesi tersebut melambangkan kecemerlangan otak dan kejayaan secara materi, sebab hanya orang yang pintar dan berduitlah yang biasanya meraih gelar terebut, setelah luluspun, menjadi jaminan dia akan menjadi orang kaya.

Cita-cita menjadi pilot, tentara, dan presiden, juga terlanjur dipersepsi sebagai profesi prestisius yang penuh kegagahan, usaha cemerlang dan mempunyai uang yang banyak. Pokoknya jaminan bahwa orang yang berprofesi tersebut akan memiliki kewibawaan, derajat dan yang pasti kekayaan yang melimpah. Hal ini setidaknya telah mencerminkan pola pikir dan acuan nilai kesuksesan bagi bangsa kita. Atau bisa dikatakan bahwa profesi yang memiliki pangkat dan kedudukan terhormat serta kekayaan melimpah telah menjadi ‘role model’ dan barometer kesuksesan bangsa kita.

Zaman saya kecil dulu, atau bahkan sampai sekarang, sangat langka keberadaan orang tua yang mengizinkan anaknya berprofesi sebagai musisi atau seniman, karena dianggap sebagai profesi yang tidak menjanjikan masa depan yang cerah, alih-alih mendulang uang banyak, malahan berpotensi luntang-lantung menjadi ‘pengamen’ – bukan mendeskriditkan pengamen, tapi profesi ini sudah terlanjut di cap sebagai orang yang tidak sukses --.

Tidak hanya itu, banyak lagi cita-cita yang dianggap tidak menjanjikan masa depan yang cerah, misalnya menjadi seorang penulis, atlit, petani, bahkan cita-cita sebagai guru sekalipun banyak juga orang tua yang mewanti-wanti anaknya ke arah sana. Padahal semua profesi tersebut tergolong profesi yang membutuhkan kompetensi dan dedikasi, yang jelas profesi tersebut sangat mulia. Ya.. lagi-lagi itulah patron yang terlanjur tertanam di benak masyarakat kita yang hedonis.

Memanga, di zaman ini sudah mulai ada pergeseran paradigma cita-cita seorang anak, kalau anda tanyakan cita-cita mereka, kita akan mendapatkan jawaban yang lebih beragam ketimbang kita dulu. ”saya ingin menjadi pemain band, pemain sinetron, penyanyi top, musisi, peragawati, model, menjadi pelawak,...” dan banyak lagi jawaban lainnya, yang jelas itu adalah sebuah pergerakan pola pikir, bahkan bukan hanya anaknya yang bercita-cita, terkadang orangtuanyalah yang mendorong mati-matian mengorbankan modal besar demi cita-cita tersebut. Tapi motifnya tetap sama, yaitu kejayaan, kekayaan, dan kebesaran nama, akan tetapi dorongan kuat lainnya adalah muncul dari sebuah budaya instan unutk mencapai cita-cita tersebut, AFI, Indonesian Adol, Mama Mia, Pildacil adalah contoh dari budaya instan tersebut, bahkan ’menjual diri’ kerap dijadikan jalan pintas tersebut – na’uzubillah.

Saya termasuk anak yang sangat beruntung memiliki orangtua yang open minded dan mendukung penuh cita-cita saya. Mungkin ini adalah efek positif dari kebebesan berpikir pendidikan Barat yang dirasakan ayah saya saat beliau kuliah di Jerman. Kami selalu saja diberikan kebebasan berekspresi, di support dalam mengembangkan kreatifitas diri kami, ditempa secara mental dan pikiran, dan yang jelas tidak pernah dibatasi untuk menjadi apapun dalam hidup asalkan tidak melanggar norma agama.

Seingat saya dulu, hampir semua profesi pernah saya cita-citakan, dari mulai menjadi dokter, pilot, tentara, pengusaha, guru, pengacara, konsultan, hakim, penyanyi, pelukis, pesulap, atlit, arsitek, penemu, ahli komputer, bahkan menjadi seorang ulama, presiden dan astronotpun pernah saya cita-citakan. Itulah dunia masa kecil, apa saja yang kita lihat aneh dan menarik langsung saja kita coba untuk wujudkan, tapi sejalan dengan perkembangan usia dan mental, akhirnya kita menjadi lebih realistis dan mengerucut disesuaikan dengan kondisi dan kenyataan yang akhirnya mengharuskan kita menjalani kehidupan seperti ini.

Lantas sekali lagi saya bertanya, apakah kita pernah membayangkan sebelumnya bahwa kita akan menjalani kehidupan seperti sekarang ini? Yang jelas Das Solen selalu saja berbeda dengan Das Sein (baca: kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang ktia bayangkan).

Itulah kehidupan dunia, terlalu banyak kejadian di dunia ini yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Hidup kita ini penuh dengan terra incognito, kata dosen saya, terra incognito adalah istilah yang digunakan untuk sebuah masa depan yang kita tidak ketahui apa yang akan terjadi nanti. satu-satunya hal yang paling efektif untuk menghadapinya adalah dengan membuat rencana dan berusaha untuk berbuat yang terbaik agar saat kita tiba pada tujuan kita selalu sukses.

Saat pergi ke kantor, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama perjalanan kita, tapi jika kita berkendara dengan prinsip safety riding dan memilih jalan yang benar, maka kita akan sampai kantor dengan selamat dan tidak tersesat. Kalaupun terjadi kecelakaan, yang jelas Allah Maha Berkehendak akan hal tersebut.

Menjalani pekerjaan di kantor, kita tidak tahu apakah target kita akan tercapai, seperti apakah hambatan pekerjaan yang akan kita hadapi, adakah hal lain yang akan menggalkan kita, apakah atasan kita akan puas dengan hasil pekerjaan kita, bisakah kita mendapat nilai yang terbaik? Pastinya, jika kita mempersiapkan dan melaksanakan semuanya dengan totalitas, kesuksesan yang akan kita raih, Seandainya terjadi yang tidak kita harapkan, lagi-lagi itu adalah kuasa Allah.

Lebih luas lagi, Hidup manusia manusia memang selalu diberikan teki-teki dan misteri, itulah sebabnya Allah selalu memerintahkan kita untuk terus menerus berpikir, mengkaji dan bertindak on the track, dan isyarat itu terkandung di banyak ayat dalam al Quran. Akhirat adalah terra icognito, sebab kita tidak tahu akan menghuni tempat yang mana, dunia atau akhirat? Kendati demikian, di dalamnya terkandung sebuah kepastian, bahwa mereka yang on the track akan menghuni Surga dan yang menyimpang akan menghuni neraka.

Sangat banyak hikmah yang terkandung dalam ketidak tahuan kita atas segala hal, misalnya misteri tentang datangnya ajal, kalau saja manusia akan tahu kapan ajalnya datang, maka akan hilang makna dari perjuagan hidup manusia yang taat. Manusia akan berleha-leha dan berbuat zalim, lalu bertobat saat ajal hendak menjemput. Kalau saja semua bencana dapat diprediksi, maka makna ketulusan dalam meringkankan beban sesama akan mengalami kehambaran makna. Kalau saja saya tahu akan menjadi kaya atau miskin, hidup inipun akan berbahaya, sebab bagi mereka yang dilahirkan menjadi orang kaya, akan ongkang-ongkang kaki tanpa berusaha apapun, sebaliknya mereka yang miskin akan menganggap Tuhan tidak adil dan mereka akan putus asa. Untungnya kaya dan miskin, surga dan neraka diberikan kebebasan bagi manusia untuk memilihnya.... siapkah anda berjuang menjadi sukses di tengah terra incognito??????

Menangislah Jika Harus Menangis

Menangislah, bila harus menangis..!!

My Diary: Lombok Raya Hotel, 21 November 2007.

Menangislah.. bila harus menangis…

karena kita semua manusia...

Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis,

dan manusia pun bisa mengambil hikmah...

Dibalik segala duka, tersimpan hikmah.....

--- air mata, Dewa 19 album Cintailah Cinta ---

Adakah diantara kita yang tidak pernah menangis dalam hidup? Seandainya ada, pasti anda adalah seorang pembohong, sebab tangisan merupakan hal yang paling didambakan setiap orang tua saat anaknya lahir. Jadi, paling tidak 1 kali seumur hidup kita pasti pernah menangis, satu kali menangis pun merupakan hal yang hampir bisa dikatakan mustahil, sebab komunikasi seorang bayi adalah dengan tangisan, saat mereka lapar, mengompol, sakit, dan membutuhkan sesuatu, pasti tanda yang diberikan berupa tangisan. Bahkan seeorang bayi yang bisu pun, tetap bisa menangis, walaupun terkadang tidak mengeluarkan suara.

Jangan pernah kita berkata bahwa kita ini orang tegar yang tidak pernah menangis. Atau agar anda terkesan tegar, maka anda malu mengakui bahwa anda pernah menangis. Orang sepertinya sudah cenderung mempersepsikan bahwa airmata adalah dominasi kaum wanita, tidak aneh jika mendapati wanita yang menangis sebab perasaan mereka memang sensitif. Sebaliknya dengan kamu pria, meneteskan airmata akan dianggap bahwa dia tidak tegar alias ‘cengeng’ bahkan dianggap tidak layak untuk menjadi kaum laki-laki, “udeh pake rok aje deh lo...!” kata teman saya.

Saya cenderung tidak setuju dengan stereotip di atas, sebab pada beberapa kondisi, tangisan menjadi hal yang sangat bermakna dan dinantikan. Saat bayi dilahirkan misalnya, tangisan bayi menjadi tanda bahwa ia dilahirkan dengan selamat. Tangisan bagi bayi yang belum bisa berbicara merupakan isyarat bahwa ada sesuatu yang dia butuhkan. Saat memanjatkan doa atau beribadah, tangisan bisa dijadikan penambah kekhusukan atau menambah kedekatan kita dengan Allah, bahkan banyak orang percaya bahwa setiap tetesan airmata akan menjadi saksi ketakwaan kita dan menjadi perantara bagi doa kita.

Memang ada juga tangisan yang layak kita anggap negatif, tangisan yang tidak datang dari hati misalnya, orang biasa menyebutnya dengan ’airmata buaya’. Tangisan anak manja yang rewel, juga sangat menguji kesabaran orangtua, atau tangis penyesalan yang sia-sia.

Jadi, tidak ada salahnya kan kalau kita menangis,asalkan tangisan tersebut bermakna dan memberikan kontribusi positif bagi diri kita. Jika kita ukur secara matematis, maka setiap tetesan air mata yang kita keluarkan harus menjadi modal bagi kita unutk meraih hasil yang kita inginkan. Jika tidak, maka air mata yang kita keluarkan hanya akan sia-sia, apalagi jika air mata tersebut diiringi dengan sebuah jiwa keputusasaan.

Dalam menulis diary ini saya tidak dalam kondisi bersedih apalagi menangis dengan air mata yang menganak sungai, hati saya bahagia dan senang. Hanya saja saya terkenang pada sebuah kenangan bahwa saya pernah menangisi sesuatu yang saat itu memang tidak layak saya tangisi, ’tangis penyesalan’ yang tiada berguna. Layakkah kita menangisi apa yang memang tidak layak kita miliki? Jagalah air mata anda, jangan sampai ia kering untuk sebuah kejadian yang tidak layak untuk ditangisi...!