Kamis, 27 Maret 2008

Soft-war bukan Software

Soft-war bukan Software

31 Oktober 2006

Selepas perang Badar, Rasulullah SAW dan segenap Laskar Mujahiddin pulang ke Basecamp Mereka di Madinah. Perjalanan pulang diwarnai dengan gegap gempita rasa syukur dan kesenangan karena telah memenang pertempuran yang dahsyat saat itu. Luka yang menganga dan darah yang menganak sungai di sekujur tubuh seakan sirna terhapus kegembiraan, tapi kesunyian lantas menyeruak tatkala Rasulullah bersabda “raja’na min al-jihad al Ashgar ilaa al-Jihad al-Akbar” (kita baru saja kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang Besar). Perih dan sakit sahabat yang awalnya tak terasa, kini meronta seakan berteriak menuntut konfirmasi dari sabda Rasul tersebut, bukankah kita telah mengorbankan harta, jiwa, raga bahkan keluarga kita dalam perang ini, lihatlah sekujur tubuh kami dipenuhi luka yang masih belu kering..! semuanya meronta dalam hati dan penuh tanda tanya, apakah perang seperti ini dianggap sebagai perang kecil yang tidak berarti? Ketidak puasan terhadap sabda rasul tidak berlanjut lama, tersapu oleh pertanyaan sahabat “apa yang dimaksud dengan Jihad Besar..?”.Jihadu An Nafs – Jihad melawan Nafsu” Jawab Rasul.

Secara Bahasa –etimologi -- saya sangat paham Hadits ini, yang intinya bahwa perang fisik (selanjutnya saya sebut dengan Hard-war) adalah sebuah perang yang dianggap lebih kecil ketimbang perang melawan nafsu (selanjutnya saya sebut Soft-war). tapi secara maknawi, saya masih belum terlalu jelas mengenai kandungannya. Tapi kalau boleh berijtihad (lebih tepatnya berpendapat pribadi) Besar kecilnya suatu perang dapat dilihat dari dampak –konsekuensi-- yang disebabkannya. Misalnya, jutaan nyawa yang melayang ketika perang dunia I dan II adalah konsekuensi yang tidak kecil, penderitaan jutaan orang yang ditinggal oleh korban perang juga tidaklah kecil, dampak psikologis bagi pelaku dan korban perang tidak pula dianggap enteng, belum lagi kerusakan fisik, ekonomi, sosial, politik, agama dan kerusakan lainnya bukanlah sebuah konsekuensi yang ringan. Lalu apakah ini semua tetap dianggap sebagai perang yang kecil? Jawabannya, YA…! Karena semua perang Fisik yang dialami oleh setiap orang adalah akibat dari ketidak mampuannya menghadapi Perang Melawan Nafsu.

Tidak mungkin ada perang Fisik jika semua orang mampu menahan nafsunya. Perang biasanya timbul akibat semua pihak tidak kuasa untuk mengendalikan nafsu untuk menghegemoni pihak yang lain. Pihak yang kuat merasa berhak untuk mengambil hak orang lain dan tidak terima jika kekuasaannya tertandingin oleh orang lain. Setiap hari semua pihak saling memupuk kekuatan demi memenuhi tuntutan nafsunya untuk menjadi yang terkaya, terkuat, terjaya, terhormat dan tak terkalahkan. Pihak yang lemah tak juga tinggal diam untuk mengerjar ketertinggalannya demi tujuan mencapai ‘ter’ –terbaik, terkaya, dll yang positif – dan tidak ingin menjadi yang “ter” –termiskin, terberlakang, dll yang buruk-buruk--.


Perang Fisik dalam prosesnya akan ada awal dan akhirnya. Misalnya, perang dunia ke-1 berlangsung dari tahun … - …, perang dunia ke-2 antara tahun …- …., perang teluk, perang Vietnam, Perang Afganistan, bahkan perang salib yang memakan waktu ratusan tahunpun memiliki jangka waktu memulai dan mengakhiri.

Tapi soft-war bukan software waktunya terus saja berlangsung tanpa pernah berakhir kecuali dunia ini memang telah benar-benar berakhir alias Kiamat. Bahkan setiap orang dalam hidupnya akan selalu didera dengan Sof-war. Secara sadar atau tidak sadar, setiap detik dalam hidup kita selalu harus dalam kondisi siaga perang, karena perjalanan hidup kita memang dipenuhi dengan softwar. Dari mulai bangun tidur sampai tidur bahkan di dalam tidurpun kita selalu menghadapi soft-war. Saat bangun tidur, kita harus berperang dengan rasa kantuk dan kemalasan, apakah kita akan tidur lagi atau bergegas untuk aktifitas yang lebih berguna, itu adalah perang. selama kita beraktifitas selalu muncul godaan, apakah kita akan berbuat curang, berbohong, berpikir negatif, mencaci, dan berbagai macam godaan nafsu yang harus kita perangi. Saat kita akan tidur, apakah kita berdo’a atau malah berniat untuk tidak bangun sama sekali.. semua itupun adalah perang. mampukah kita memenangkan semua soft-war tersebut, jawabannya ada pada anda.

Yang saya sangat sesali sampai saat ini adalah karena saya sampai sekarang masih sering kalah dalam soft-war. Doakan ya moga saya bisa selalu menang dalam soft-war dan ketika saya mengakhiri hidup semoga saya dalam keadaan MENANG…!

My 24’s Annyversary

My 24’s Annyversary

12 januari 2007.

Pagi ini aku berangkat kerja dari tangerang, Pkl 04.45 WIB saya sudah beranjak dari rumah, karena jika saya telat sedikit saja, saya bisa telat datang ke kantor. Malam sebelumnya saya memang menyempatkan pulang ke rumah, entah kenapa saat itu saya merasa sangat rindu rumah, mungkin terdorong untuk mengetahui kondisi mental adik perempuan saya yang sedang memiliki masalah ditempatnya mengajar yang juga bertepatan dengan Meninggalnya sepupuku Kak Oleh, yang siang itu meninggal akibat stooke.

Hari Jum'at pikirku..., biasanya saya sangat senang dengan hari ini, karena biasanya di hari ini saya akan pulang berakhir pekan di rumah, tapi karena hari sabtu besok saya akan ikut pertandingan Futsal mewakili kantor dalam Rangka HUT Astra, maka jumat ini saya tidak pulang kerumah, dan rencananya besok saya akan ke Rumah Pak Prast, atasan saya yang berangkat haji.

Pukul 06.45 saya sudah tiba dikantor, berbarengan dengan Mbak Mer, Ob di kantorku. Di kantor saat itu memang belum banyak yang datang, baru saya dan 2-3 orang rekan kerja. Sesaat sebelum menyalakan PC, saya melongok HP saya yang ternyata ada 2 SMS yang ternyata di dalamnya ada dua ucapan selamat Ultah. Ternyata saya baru sadar bahwa Hari ini adalah hari Ultah saya yang ke-24. Setelah itu aku mendapat beberapa ucapan selamat dari rekan kantor yang lain, tradisi pengucapan Ultah ini memang sudah menjadi tradisi di kantorku. Selain tradisi pengucapan, ada tradisi lainnya yaitu memberikan makanan pada seluruh rekan kantor, dan mentraktir beberapa kolega terdekat. Tapi hal ini tidak saya lakukan, karena saya berpikir ada hal lain yang lebih penting dari hanya sekedar menghabiskan uang untuk tradisi tadi. Pelitkah saya? Mungkin saja demikian, tapi karena kondisi keuagan saya yang tidak memungkinkan, dikarenakan ada beberapa kebutuhan lain yang sudah dianggarkan dan mendesak.

Tradisi lain yang biasa saya lakukan di hari Ultahku adalah Refleksi, Kontemplasi dan Proyeksi. Atau tradisi yang biasa dilakukan orang lain adalah Refleksi dan Resolusi. Sekali lagi hal ini belum aku lakukan.

Dear Kawan,

Setiap orang memiki proporsi waktu yang berbeda, kendati ukuran waktu yang dilalui setiap orang sama. Misalnya, setiap orang mempunyai waktu 24 jam dalam 1 hari, 7 hari dalam satu minggu. Tapi berapa hari dan jam jatah hidup yang dia dapatkan, adalah hak Tuhan yang menentukanya. Ada yang berumur 1 hari, 2 minggu, 3 bulan, 4 tahun, 5 windu atau lain sebagainya.

Misalnya Nabi Muhammad mengenyam hidup selama 63 tahun, nabi Nuh 900-an tahun, dan ayahku 55 tahun. Jatah hidup manusia yang berbeda mestinya dapat berbanding lurus dengan manfaat yang bisa dia petik, artinya semakin panjang jatah hidupnya mestinya semakin banyak manfaat hidup yang bisa diraihnya. Untuk itu Nabi SAW pernah bersabda : “sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berumur panjang dan baik amal ibadahnya, dan seburuk-buruknya orang adalah mereka yang berumur panjang dan buruk amalannya”.

Hampir Setiap orang biasanya bahagia saat hari ultahnya, saya sendiri kembali perpikir ulang saat ingin mengekspresikan kebahagiaan itu. Apakah yang menjadikan dasar kebahagiaan kita? Padahal dengan bertambahnya Umur, maka berkuranglah jatah Hidup kita. Semakin panjang umur, maka semakin lama kita akan menghadapi masalah hidup karena hidup tak pernah lepas dari masalah. Semakin lama kita hidup semakin tua diri kita dan semakin lemah fisik kita. Jika kita berpikir dalam dengan sudut pandang ini, maka kita tidak akan pernah menikmati hidup, sudut pandang ini biasanya dimiliki oleh mereka yang pesimis menghadapi hidup, dan ingin segera mengakhiri perjuangan hidup yang dipandangnya sebagai sebuah beban.

Pandangan lain mengenai kehidupan bisa saja kita arahkan pada sudut pandang yang positif, misalnya bertambahnya Umur adalah anugerah Tuhan pada kita yang telah memberikan kesempatan kita untuk memperbaiki kesalahan dan menuai manfaat. Semakin lama kita hidup, semakin banyak pula kesempatan kita untuk memberikan manfaat buat orang lain. Semakin lama hidup, kita semakin tua, semakin lemah fisik, dan semakin diingatkan Tuhan untuk mempersiapkan diri menghadap-NYA.

23 tahun sudah kesempatan Hidup yang diberikan Tuhan buatku, dan ini adalah tahun ke 24 anugerah Tuhan mengalir padaku, sekaligus kesempatan dari Tuhan buatku untuk memperbaiki Hidup. Pepetah Lama yang tak pernah usang berkata “Hidup Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini” kalau saja hari ini lebih buruk dari kemarin, atau esok hari lebih buruk dari hari ini maka itu adalah seburuk-buruknya kekalahan. Dan jika hari ini sama dengan kemarin atau esok hari sama dengan hari ini, maka kita telah kalah. Karena waktu terus mengalir tanpa bisa dibendung, aliran waktu sedemikian deras selalu membawa pembaharuan dan perubahan, kemenangan hanyalah bagi mereka yang berhasil berubah lebih cepat dari arus masa.

Parameter keberhasilannya apa? Dan bagaimana usahanya? Dll dll... wah... saya belum melihat Optimisme Hidup di tahun ini, semoga aja saya bisa berbuat lebih baik.... lebih baik... dan lebih baik lagi...... dan semoga perubahan yang dilakukan adalah lebih cepat dari perubahan yang dilakukan orang lain....

Quotes Of The Day 2 Januari 2008.

Quotes Of The Day 2 Januari 2008.

My Diary : 2 Januari 2008

Arti Menghargai

Jika seseorang menghargai hidupnya sendiri, ia harus mejaganya

baik-baik dan hidup secara lurus. Dan oleh karena tak ada yang lebih berharga

bagi manusia daripada hidupnya sendiri, maka ia pun harus menghargai dan

menghormati hidup orang lain seperti hidupnya sendiri.

Tapi semua penghormatan, penghargaan , dan cinta pada diri kita, orang lain, dan dunia.. jangan pernah melampuai cinta pada Allah dan Rasul-Nya.

Quotes Of the Day 12 January 2008

Quotes Of the Day 12 January 2008

My Diary : 12 Januari 2008.

Rembulan yang tidak kunanti sudah datang sejak di awal petang

Mimpi pun belum terencana pada hari ini..

Padahal sayatan waktu telah mentakdirkanku bertambah tahun di hari ini..

Hari ini ku berulang tahun,

Tahun selalu terulang,

Terulang tahun tapi hidup tak terulang.

Tahun yang tlah terjadi, sudah tak kuasa terulang.

Kesempatan yang terlewat konon tak terulang

Kendati kau sedang ber ulang tahun.

Kegagalan bisa kau daur ulang

Asalkan sadar dan bangkit berjuang.

Jangan lagi kau ulang kegagalan

Sebab kegagalan selalu bisa terulang.

Andai waktu bisa terulang

Sayang waktu tak pernah terulang.

Kalaupun waktu bisa terulang

Jangan kegagalanmu jangan kau ulang

Selamat Ulang tahun..

Jangan kau ulang apa yang tak ingin terulang....

Quotes Of The Day 28 januari 2008

Quotes Of The Day 28 januari 2008

My: Diary

Kita kecewa karena terlalu berharap.

Harapan akan menjadi keinginan..

Keinginan membangkitkan Obsesi..

Obsesi memompa Ambisi..

Mereka yang ambisius susah merasakan kepuasan.

Rasa syukur hilang, yang muncul hanya kekecewaan...

Mereka yang ambisius seringkali mendapat lebih dari orang lain,

Tapi mereka merasa kurang dari orang lain..

Hitler yang ambisius.. tak berhasil karena gagal memenuhi pundi ambisinya menguasai dunia..

Napoleon yang perkasa.. tak berdaya karena gagal mengabdi pada ambisinya menaklukan dunia..

Alexander yang agung.. merasa kerdil di ketiak cleopatra, padahal ¼ dunia telah menjadi miliknya..

Mereka memiliki semua, tapi tak menguasai apa-apa.. karena mereka hanya menjadi budak ambisi...

Bercita-citalah setinggi langit, tapi kaki tetap berpijak di tanah...

Melambung tinggi bersama ambisi, hanya membuat kita melayang dan terjatuh dari tempat yang tinggi.

Sedemikian tinggi, sehingga rasa sakit semakin meluluhkan rasa...

Terra Incognito

Terra Incognito

Lombok: 23 nov 2007

Pernahkah kita membayangkan sebelumnya bahwa kehidupan yang kita jalani adalah seperti saat ini? Sebagian besar atau bahkan hampir semua dari kita tidak pernah menyangka bahwa akan menjalani kehidupan seperti ini, tidak seperti apa yang pernah kita bayangkan sebelumnya.

Saat kita masih kecil, seringkali orangtua atau guru kita bertanya tentang cita-cita, jawaban kita saat itu sangat beragam, ada yang ingin menjadi dokter, pilot, astronot, tentara, presiden atau profesi lainnya yang kita anggap sangat menarik atau terlihat sangat hebat. Entah apa dasar kita dulu, saat menentukan cita-cita masa kecil atau remaja. Yang jelas, cita-cita sebagai dokter adalah cita-cita favorit saat itu, bahkan tidak hanya anak yang ingin bercita-cita demikian, seringkali orangtua jugalah yang mensugesti anaknya bercita-cita demikian. Mungkin profesi tersebut melambangkan kecemerlangan otak dan kejayaan secara materi, sebab hanya orang yang pintar dan berduitlah yang biasanya meraih gelar terebut, setelah luluspun, menjadi jaminan dia akan menjadi orang kaya.

Cita-cita menjadi pilot, tentara, dan presiden, juga terlanjur dipersepsi sebagai profesi prestisius yang penuh kegagahan, usaha cemerlang dan mempunyai uang yang banyak. Pokoknya jaminan bahwa orang yang berprofesi tersebut akan memiliki kewibawaan, derajat dan yang pasti kekayaan yang melimpah. Hal ini setidaknya telah mencerminkan pola pikir dan acuan nilai kesuksesan bagi bangsa kita. Atau bisa dikatakan bahwa profesi yang memiliki pangkat dan kedudukan terhormat serta kekayaan melimpah telah menjadi ‘role model’ dan barometer kesuksesan bangsa kita.

Zaman saya kecil dulu, atau bahkan sampai sekarang, sangat langka keberadaan orang tua yang mengizinkan anaknya berprofesi sebagai musisi atau seniman, karena dianggap sebagai profesi yang tidak menjanjikan masa depan yang cerah, alih-alih mendulang uang banyak, malahan berpotensi luntang-lantung menjadi ‘pengamen’ – bukan mendeskriditkan pengamen, tapi profesi ini sudah terlanjut di cap sebagai orang yang tidak sukses --.

Tidak hanya itu, banyak lagi cita-cita yang dianggap tidak menjanjikan masa depan yang cerah, misalnya menjadi seorang penulis, atlit, petani, bahkan cita-cita sebagai guru sekalipun banyak juga orang tua yang mewanti-wanti anaknya ke arah sana. Padahal semua profesi tersebut tergolong profesi yang membutuhkan kompetensi dan dedikasi, yang jelas profesi tersebut sangat mulia. Ya.. lagi-lagi itulah patron yang terlanjur tertanam di benak masyarakat kita yang hedonis.

Memanga, di zaman ini sudah mulai ada pergeseran paradigma cita-cita seorang anak, kalau anda tanyakan cita-cita mereka, kita akan mendapatkan jawaban yang lebih beragam ketimbang kita dulu. ”saya ingin menjadi pemain band, pemain sinetron, penyanyi top, musisi, peragawati, model, menjadi pelawak,...” dan banyak lagi jawaban lainnya, yang jelas itu adalah sebuah pergerakan pola pikir, bahkan bukan hanya anaknya yang bercita-cita, terkadang orangtuanyalah yang mendorong mati-matian mengorbankan modal besar demi cita-cita tersebut. Tapi motifnya tetap sama, yaitu kejayaan, kekayaan, dan kebesaran nama, akan tetapi dorongan kuat lainnya adalah muncul dari sebuah budaya instan unutk mencapai cita-cita tersebut, AFI, Indonesian Adol, Mama Mia, Pildacil adalah contoh dari budaya instan tersebut, bahkan ’menjual diri’ kerap dijadikan jalan pintas tersebut – na’uzubillah.

Saya termasuk anak yang sangat beruntung memiliki orangtua yang open minded dan mendukung penuh cita-cita saya. Mungkin ini adalah efek positif dari kebebesan berpikir pendidikan Barat yang dirasakan ayah saya saat beliau kuliah di Jerman. Kami selalu saja diberikan kebebasan berekspresi, di support dalam mengembangkan kreatifitas diri kami, ditempa secara mental dan pikiran, dan yang jelas tidak pernah dibatasi untuk menjadi apapun dalam hidup asalkan tidak melanggar norma agama.

Seingat saya dulu, hampir semua profesi pernah saya cita-citakan, dari mulai menjadi dokter, pilot, tentara, pengusaha, guru, pengacara, konsultan, hakim, penyanyi, pelukis, pesulap, atlit, arsitek, penemu, ahli komputer, bahkan menjadi seorang ulama, presiden dan astronotpun pernah saya cita-citakan. Itulah dunia masa kecil, apa saja yang kita lihat aneh dan menarik langsung saja kita coba untuk wujudkan, tapi sejalan dengan perkembangan usia dan mental, akhirnya kita menjadi lebih realistis dan mengerucut disesuaikan dengan kondisi dan kenyataan yang akhirnya mengharuskan kita menjalani kehidupan seperti ini.

Lantas sekali lagi saya bertanya, apakah kita pernah membayangkan sebelumnya bahwa kita akan menjalani kehidupan seperti sekarang ini? Yang jelas Das Solen selalu saja berbeda dengan Das Sein (baca: kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang ktia bayangkan).

Itulah kehidupan dunia, terlalu banyak kejadian di dunia ini yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Hidup kita ini penuh dengan terra incognito, kata dosen saya, terra incognito adalah istilah yang digunakan untuk sebuah masa depan yang kita tidak ketahui apa yang akan terjadi nanti. satu-satunya hal yang paling efektif untuk menghadapinya adalah dengan membuat rencana dan berusaha untuk berbuat yang terbaik agar saat kita tiba pada tujuan kita selalu sukses.

Saat pergi ke kantor, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama perjalanan kita, tapi jika kita berkendara dengan prinsip safety riding dan memilih jalan yang benar, maka kita akan sampai kantor dengan selamat dan tidak tersesat. Kalaupun terjadi kecelakaan, yang jelas Allah Maha Berkehendak akan hal tersebut.

Menjalani pekerjaan di kantor, kita tidak tahu apakah target kita akan tercapai, seperti apakah hambatan pekerjaan yang akan kita hadapi, adakah hal lain yang akan menggalkan kita, apakah atasan kita akan puas dengan hasil pekerjaan kita, bisakah kita mendapat nilai yang terbaik? Pastinya, jika kita mempersiapkan dan melaksanakan semuanya dengan totalitas, kesuksesan yang akan kita raih, Seandainya terjadi yang tidak kita harapkan, lagi-lagi itu adalah kuasa Allah.

Lebih luas lagi, Hidup manusia manusia memang selalu diberikan teki-teki dan misteri, itulah sebabnya Allah selalu memerintahkan kita untuk terus menerus berpikir, mengkaji dan bertindak on the track, dan isyarat itu terkandung di banyak ayat dalam al Quran. Akhirat adalah terra icognito, sebab kita tidak tahu akan menghuni tempat yang mana, dunia atau akhirat? Kendati demikian, di dalamnya terkandung sebuah kepastian, bahwa mereka yang on the track akan menghuni Surga dan yang menyimpang akan menghuni neraka.

Sangat banyak hikmah yang terkandung dalam ketidak tahuan kita atas segala hal, misalnya misteri tentang datangnya ajal, kalau saja manusia akan tahu kapan ajalnya datang, maka akan hilang makna dari perjuagan hidup manusia yang taat. Manusia akan berleha-leha dan berbuat zalim, lalu bertobat saat ajal hendak menjemput. Kalau saja semua bencana dapat diprediksi, maka makna ketulusan dalam meringkankan beban sesama akan mengalami kehambaran makna. Kalau saja saya tahu akan menjadi kaya atau miskin, hidup inipun akan berbahaya, sebab bagi mereka yang dilahirkan menjadi orang kaya, akan ongkang-ongkang kaki tanpa berusaha apapun, sebaliknya mereka yang miskin akan menganggap Tuhan tidak adil dan mereka akan putus asa. Untungnya kaya dan miskin, surga dan neraka diberikan kebebasan bagi manusia untuk memilihnya.... siapkah anda berjuang menjadi sukses di tengah terra incognito??????

Menangislah Jika Harus Menangis

Menangislah, bila harus menangis..!!

My Diary: Lombok Raya Hotel, 21 November 2007.

Menangislah.. bila harus menangis…

karena kita semua manusia...

Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis,

dan manusia pun bisa mengambil hikmah...

Dibalik segala duka, tersimpan hikmah.....

--- air mata, Dewa 19 album Cintailah Cinta ---

Adakah diantara kita yang tidak pernah menangis dalam hidup? Seandainya ada, pasti anda adalah seorang pembohong, sebab tangisan merupakan hal yang paling didambakan setiap orang tua saat anaknya lahir. Jadi, paling tidak 1 kali seumur hidup kita pasti pernah menangis, satu kali menangis pun merupakan hal yang hampir bisa dikatakan mustahil, sebab komunikasi seorang bayi adalah dengan tangisan, saat mereka lapar, mengompol, sakit, dan membutuhkan sesuatu, pasti tanda yang diberikan berupa tangisan. Bahkan seeorang bayi yang bisu pun, tetap bisa menangis, walaupun terkadang tidak mengeluarkan suara.

Jangan pernah kita berkata bahwa kita ini orang tegar yang tidak pernah menangis. Atau agar anda terkesan tegar, maka anda malu mengakui bahwa anda pernah menangis. Orang sepertinya sudah cenderung mempersepsikan bahwa airmata adalah dominasi kaum wanita, tidak aneh jika mendapati wanita yang menangis sebab perasaan mereka memang sensitif. Sebaliknya dengan kamu pria, meneteskan airmata akan dianggap bahwa dia tidak tegar alias ‘cengeng’ bahkan dianggap tidak layak untuk menjadi kaum laki-laki, “udeh pake rok aje deh lo...!” kata teman saya.

Saya cenderung tidak setuju dengan stereotip di atas, sebab pada beberapa kondisi, tangisan menjadi hal yang sangat bermakna dan dinantikan. Saat bayi dilahirkan misalnya, tangisan bayi menjadi tanda bahwa ia dilahirkan dengan selamat. Tangisan bagi bayi yang belum bisa berbicara merupakan isyarat bahwa ada sesuatu yang dia butuhkan. Saat memanjatkan doa atau beribadah, tangisan bisa dijadikan penambah kekhusukan atau menambah kedekatan kita dengan Allah, bahkan banyak orang percaya bahwa setiap tetesan airmata akan menjadi saksi ketakwaan kita dan menjadi perantara bagi doa kita.

Memang ada juga tangisan yang layak kita anggap negatif, tangisan yang tidak datang dari hati misalnya, orang biasa menyebutnya dengan ’airmata buaya’. Tangisan anak manja yang rewel, juga sangat menguji kesabaran orangtua, atau tangis penyesalan yang sia-sia.

Jadi, tidak ada salahnya kan kalau kita menangis,asalkan tangisan tersebut bermakna dan memberikan kontribusi positif bagi diri kita. Jika kita ukur secara matematis, maka setiap tetesan air mata yang kita keluarkan harus menjadi modal bagi kita unutk meraih hasil yang kita inginkan. Jika tidak, maka air mata yang kita keluarkan hanya akan sia-sia, apalagi jika air mata tersebut diiringi dengan sebuah jiwa keputusasaan.

Dalam menulis diary ini saya tidak dalam kondisi bersedih apalagi menangis dengan air mata yang menganak sungai, hati saya bahagia dan senang. Hanya saja saya terkenang pada sebuah kenangan bahwa saya pernah menangisi sesuatu yang saat itu memang tidak layak saya tangisi, ’tangis penyesalan’ yang tiada berguna. Layakkah kita menangisi apa yang memang tidak layak kita miliki? Jagalah air mata anda, jangan sampai ia kering untuk sebuah kejadian yang tidak layak untuk ditangisi...!