Kamis, 27 Maret 2008

Palembang, I’m Coming...!


Palembang, I’m Coming...!

Palembang, 9 maret 2008

Hari ini adalah hari pertama saya di Palembang dan kali ke-4 saya dinas di Palembang. Perjalanan Jakarta-Palembang terasa sangat singkat, baru saja para pramugari Garuda menyuguhkan hidangan,tak lama kemudian announcement kedatangan di Palembang sudah didengungkan. Ya itulah manfaat positif dari kemajuan teknologi, tak terbayangkan oleh saya jika harus melakukan perjalanan tanpa kendaraan bermesin seperti mobil dan pesawat. Tentu perjalanan ke Palembang tidak akan memakan waktu 1 jam seperti sekarang melainkan berhari-hari dan melelahkan.

Setiap menjalani perjalanan hidup,saya selalu berusaha mengambil daya tariknya sendiri, selalu ada kejadian yang amat menarik untuk dicatat dan dijadikan hikmah. Khusus di Palembang kali ini, daya tarik terbaru adalah dari kembalinya gairah pemerintah kota Palembang untuk menghidupkan gemerlap pariwisata di Palembang. Belum lekang dari ingatan saya, pada akhir 2007 yang lalu, Pemerintah kota Palembang me-launching program pariwisata ’VISIT MUSI 2008’ yang dibuka dengan sebuah event megah, hingga melibatkan beberapa stasiun TV nasional yang menyiarkan secara langsung prosesi tersebut.

Sempat menggelora rasa penasaran saya untuk segera melihat dan merasakah aura perubahan Palembang setelah Visit Musi digelar, walhasil tiba juga saya menyaksikan perubahan tersebut. Apakah perubahan tersebut sepektakuler? Ternyata hati saya bergidik, ”Lumayan Juga..!” walau tak seperti ekspektasi awal saya yang mendamba sebuah perubahan sepektakuler di kota pempek ini.

Perubahan yang paling nampak dari Visit Musi ini adalah dibuatnya beberapa taman dan area lapang serbaguna di kolong jembatan ampera di sisi Sungai Musi. Sungai dibuat sedemikian bersih dengan tempat parkir kapal yang diatur rapih. Perubahan lainnya adalah mulai dibangunnya jalan layang di jalan dekat akses ke bandara yang – seingat saya – sejak 8 bulan yang lalu sudah mulai dirintis, tapi belum rampung sehingga hanya menyisakan kemacetan dan pengalihan arah lalu lintas.

Perubahan lainnya? Air mancur di depan mesjid Agung yang selama ini dibiarkan teronggok tak berjalan, kini mulai diaktifkan kembali. Batin saya berkata ”gitu donk, masak sich dibuat hanya untuk menyambut Megawati –saat itu masih menjabat Presiden yang datang meresmikan PON – kemudian dibiarkan tak terurus..!”

Apalagi yang berubah? Banyak..! Jalanan semakin macet, pengemis dan anak jalanan semakin nyata terlihat, mall semakin ramai pengunjung, pasar tradisional semakin terpinggir, angkot membludak, kendaraan menjamur, dan yang juga nyata terlihat adalah gaya hidup metropolis mulai menjamah para penduduknya terutama anak muda. Yang jelas ini semua adalah ciri khas dari kota yang sedang merangkak berkembang termasuk Palembang.

Itulah sedikit kesimpulan pengamatan saya mengenai kota dengan ikon jembatan Ampera ini. Sangat subjektif memang, dan tidak bisa merepresentasikan seluruh kondisi yang ada di Palembang. Tapi paling tidak inilah sudut pandang saya ’pendatang’ yang belum sempat menjajaki seluruh pelosok kota ini.

Satu hal yang cukup melegakan hati saya adalah testimony dari seorang penduduk asli palembang yang mengatakan ”kita sekarang tidak lagi merasa minder dan malu menjadi orang Wong Kito Galo..!, Palembang sudah maju pesat dibandingkan beberapa tahun yang lalu”.

Mhmm.. memang seperti inilah mestinya pembangunan, harus dirasakan langsung secara positif oleh mereka yang tinggal di dalamnya” batinku.

Biarkanlah Palembang dan seluruh penduduknya berjuang memajukan kota tercinta mereka. Sebagai seorang pendatang sesaat, saya tidak ingin mencampuri urusan mereka, apalagi sekarang di kota ini sedang marak kampanye pilkada Gubernur, yang setiap calon menebar janji muluk, dengan program yang bombastis. Saya hanya bisa berdoa, semoga mereka mencatat setia ucapan, rencana, dan janji mereka selama kampanye. Sebab janji adalah hutang...! semakin banyak orang yang diberikan janji, maka semakin banyak hutang mereka bagi konstituennya, semua janji itulah yang akan dimintakan pertanggung jawabannya kelak di Akherat.

Mulutmu harimaumu..! ucapan seringkali meluncur deras bak peluru senapan, sulit ditangkap, tak terlihat, tapi amat besar dampaknya. Semoga mereka menyadari dan mencatat semua ucapan mereka.

Saat kampanye rakyat dijunjung, saat terpilih rakyat tak dikunjungi. Saat kampanye rakyat di undang bertemu, sesudah menang rakyat tak bisa bertemu. Semoga saja kejadian berulang di setiap daerah di Indonesia tak terulang di Kota ini.

Satu lagi harapan saya, semoga penduduk kota ini tetap dijaga keimanan dan ketaatan mereka terhadap agamanya. Semoga mereka dapat merasakan nikmatnya hasil pembangunan dan jerih payah setiap usaha mereka. Dan jangan sampai mereka dirundung kekecewaan atas efek negatif deras laju pembangunan.

”Palembang I’m Coming...” bisikku dalam hati.

Tutup Pintu Setan

Tutup Pintu Setan

Palembang, 12 maret 2008

Malam ini, selepas menyantap pindang Shopia di Plaju dan menikmati duren di pasar Kuto, kini tiba waktunya aku kembali ke Hotel dan mempersiapkan diri untuk training esok hari.

Sesampai di kamar, saya nyalakan TV dan membuka laptop untuk me-refresh materi training esok hari. Di tengah keasyikan saya ’berkencan’ dengan laptop, tiba-tiba tersirat sekelebat ingatan mengenai sahabatku yang kemarin malam sedang gundah gulana itu terlihat dari SMS-nya yang berisi “Knflik btin gw kumat lg nih, kdg gw g kuat org lain ngnggp gw tnp prikemanusiaan, mnjd hnrr = siap mnghmbkn dr. Ya Allah, apkh hmb trmsk yg brilmu drjtnya?”

Apakah dia sudah kembali tenang? Apakah kegundahannya telah terobati? Apakah gerangan penyebab hal tersebut? Setahuku, Sahabatku seorang dengan tingkat intelektual tinggi, semangat yang membara, keteguhan hati yang tak tergoyahkan, dan tak pernah secara nyata kulihat dia gundah seperti ini. Ada apa denganmu?

Sejenak kurenungkan sebuah nasihat dari guruku, bahwa setan tak akan menyerah untuk menjerumuskan manusia ke lubang kenistaan. Genderang perang tak pernah berhenti ditabuhkan untuk meruntuhkan benteng keimanan manusia. Hal inilah yang disebut dengan perang abadi antara kebaikan dan kejahatan. Lalu apakah sahabatku itu telah kalah berperang?

” Setan akan selalu mendatangi manusia dari berbagai arah pintu. Mereka datang dari depan, belakang, kanan dan kiri selama kita bisa menutup pintu masuk itu, maka kita tidak akan pernah kalah dalam perang. Dan ada arah pintu yang tidak akan bisa di lalui setan, yaitu pintu dari bawah dan pintu dari atas” tambah guruku.

Apa yang dikatakan guruku itu bukan sebuah nasihat yang dapat ditelan mentah-mentah, melainkan nasihat yang memiliki makna filosofis. Setan memang akan datang dari depan kita dengan beragam cara dan tipu muslihat, semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin tinggi tingkat godaan yang akan diberikan oleh setan. Hebatnya lagi, setan sangat mengetahui titik kelemahan iman kita, dan hal tulah yang akan dimanfaatkan olehnya untuk menjerumuskan kita.

Setan memang akan datang dari depan kita. Ini kaitannya dengan kelemahan manusia yang terobsesi untuk mencapai keinginannya di masa depan. Nafsu manusia cenderung mendorongnya untuk mengenyam kenikmatan dalam hidupnya, bahkan orientasi mereka untuk memupuk kekayaan, kehormatan dan mempersiapkan hidup bagi kejayaan diri dan keluarganya di masa depan. Hal ini lah yang dimanfaatkan setan untuk menggoda manusia memenuhi setiap keinginannya itu, manusia dijadikan budak untuk mengejar obsesi dan keinginannya dengan menghalalkan segala cara. Hitler, Napoleon Bonaparte, Alexander the Great, Qorun, Fir’aun Ramses II adalah beberapa contoh besar dari mereka yang diperbudak oleh nafsu memupuk kekayaan, kejayaan, kehormatan, kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara. Para koruptor, perampok, penjudi, pemelihara tuyul, adalah contoh lain dari mereka yang menggadaikan Hidup demi keinginannya.

Datangnya setan dari sebelah Kiri mengisyaratkan bahwa setan senantiasa menjerumuskan manusia untuk berbuat sesuatu yang keji dan mungkar, seperti membunuh, mencuri, dan perbuatan lainnya.

Sedangkan kedatangannya dari kanan menyiratkan makna bahwa banyak manusia yang selalu berbuat baik dan susah bagi setan untuk menggodanya. Tapi setan tak habis akal, dia akan datang menggoda manusia untuk berbuat baik dengan diwarnai sikap riya, sum’ah, takabur dan hasud. Riya adalah sikap memperlihatkan segala kelebihan yang dimilikinya, baik berupa harta, tindakan, maupun isyarat. Sum’ah adalah menyebutkan segala kelebihan yang dimiliki. Sedangkan hasud adalah rasa iri dan dengki. Hal ini ternyata banyak menghinggapi para kaum yang berilmu, bahkan para ulama sekalipun. Itulah sebabnya tak ayal kita temukan para ulama saling menghujat dan mendeklarasikan dirinya paling benar. Meminjam istilah Cak Nur ”ingin masuk surga dengan mendorong orang lain ke neraka”

Susah memang menghadapi setan dan segala tipu muslihatnya. Mereka memiliki sebuah visi yang panjang dan tak menyerah sebelum hingga visi itu tercapai. Visi mereka adalah menjadikan kita sekutu mereka di dunia dan menemani di Akhirat. Akankah kita bisa bertahan dan lebih kuat mempertahankan pencapaian visi kita? Semoga saja... semoga saja.. aamiin...!

Setan datang dari kanan, kiri, atas, dan bawah. Lalu bagaimana mungkin mereka tak bisa masuk dari bawah? Jawabannya singkat saja ”bukankah tugas setan selesai ketika kita sudah terkubur di liang lahat?” ya, setelah kita meninggal maka terputuslah hubungan kita dengan mereka, yang tersisa hanya pertanggung jawaban kita dengan Tuhan.

Kunci utama yang mesti kita pegang teguh adalah dengan membuka pintu dari atas selebar-lebarnya, sebab dari sanalah setan tak mungkin memasuki diri kita. Artinya, jika kita berpegang teguh – istiqomah, di jalan Allah, maka setan takan sekalipun mengganggu kita. Ingatlah pada Allah di saat kita duduk, berdiri, berjalan, bahkan terbaring. Jalankanlah segala syariat-Nya dengan baik dan benar, maka kita akan selamat dari persekutuan dengan setan. Nestapa dan duka, semuanya indah, tentram, dan nyaman.

Jika kita berpegang teguh dengan ikatan dengan Tuhan, maka yang kita akan dengar kelak adalah panggilan terindah dalam hidup berupa ”yaa ayyutuha an-nafsu al muthma’innah, irji’ii ilaa robbiki raadhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fii ’ibaadii wadkhulii jannati..”

Kebangkitan Kawan Lama

Kebangkitan Kawan Lama

My Diary : 6 Maret 2008

Minggu ini adalah minggu yang menyenangkan, banyak kejadian luar biasa yang aku alami, semua peristiwa hebat itu mengalir begitu deras sehingga membludak di sanubariku dan mendorongku untuk giat menuliskannya. malangnya aku, hanya terhitung satu tulisan diary yang mampu aku tulis, padahal mestinya sejuta karya yang harus kutelurkan.

Ternyata banyaknya kejadian, dan dorongan yang kuat untuk menulis tidak selalu membuat kita semakin produktif menulis. Itulah mungkin yang dirasakan oleh sobat karibku Edi Hudiata yang piawai merajut kata dalam tulisan, tapi tak mampu mengoretkan tintanya sama sekali. Ibarat semut yang shock di gudang gula, syukur-syukur semut itu gak punya penyakit jantung, yang membuat dia mati terkapar, dalam kasus sobatku edi, dia tak sampai mati hanya perlu adaptasi dengan dunia barunya di Indonesia.

Kalau boleh menerka-nerka, rasanya negeri Cleopatra yang mengalir sungai Nil di sekitarnya lebih memacu libido edi dalam menulis, atau edi sedang mendamba Cleopatra Indonesia yang menggantikan potongan puzzle hatinya yang hilang. -- He.. he.. mumpung ente masih lemah syahwat bahkan hampir mandul menulis, ane bisa bebas berkelakar tentang ente, kalau tertarik, silahkan balas lewat tulisan.

Edi yang lulusan universitas ternama di negeri Fir’aun, sanggup menggetarkan layar monitor PC-ku pagi ini. Betapa tidak, setelah sekian lama absent di Inbox Emailku, Tulisannya yang bertajuk “Pesona Cleopatra Tak Pudar Di Banten; Membincang Film “Ayat-ayat Cinta” ternyata mendobrak tangga urutan tertinggi dari antrian emailku pagi ini. Wow.. ternyata Edi mulai perkasa, apakah karena asupan energy drink yang semalam dia minum? atau karena dia telah menemukan kembali potongan jiwanya yang selama itu terhempas??

Apapun yang membuat Edi kembali menulis, pastinya dalam hatiku aku berharap 2 hal untuknya, pertama, semoga saja ini awal dari kebangkitan kreatifitasnya yang selama ini teronggok tak berdaya. Kedua, semoga saat Edi menyaksikan Ayat-ayat Cinta, disampingnya duduk seorang Cleopatra yang telah mewarnai dirinya, entah dia dia seorang putri dari Marbela Anyer, seorang bidadari dari STMIK Banten, atau seorang Peri dari Ciracas Serang? siapapun dia. Siapapun dia, aku bersyukur Kawan lamaku telah bangkit.

Satu hal untuk kawanku dan diriku, tak peduli sebanyak apa kejadian yang kamu alami, yang terpenting adalah, sebanyak apa hikmah yang kau raih dari setiap kejadian itu.

Kalau kau melihat lautan, jangan hanya seperti anak kecil yang asyik bermain di pinggir pantai, terlena mengumpulkan potongan kerang di bibir laut, sedangkan keindahan sejati bukan ada dipermukaan. Untuk itu, selamilah lautan, kendati teramat luas untuk kau jelajahi, paling tidak kau tidak tertipu oleh buaian permukaan yang menghanyutkan. Kalaupun kau mati tenggelam di dalamnya, engkau sudah menjadi bagian dari lautan yang penuh hikmah dan kesucian.

Nikmatnya Hidup

Nikmatnya Hidup

Makasar, 21 Feb 2008, 23.00WITA

Hari ini cukup berat kulalui,

Seberat dulu yang pernah kutak ingin lalui,

Selalu ini terulang untuk dilalui,

Jika begini terus tak ada nikmat yang kucicipi.

Itulah sekelumit kisah hari ini, setelah banyak hari aku lalui tanpa kesulitan, kini kembali aku rasakan ketidaknyamanan menjalani hidup. Menjalani beratnya hari ini kuteringat pertanyaan sederhana dari seorang adik tingkat kuliahku, ”kakak kok keliatannya selalu optimis dan tidak pernah kendur semangat, boleh tahu resepnya??”.

Mmhhmm... sebenarnya malu juga mendapat pertanyaan ini, ternyata selama ini aku sukses memerankan sebuah sandiwara dunia ini. meminjam istilah temanku, aku sukses memerankan tokoh dalam topeng kehidupan.

Selama ini aku memang tak pernah mau menunjukan isi perasaanku. Dimanapun, kapanpun, bagaimanapun, siapapun, dengan alasan apapun saya tidak ingin menunjukan perasaan negatif pada setiap orang yang aku temui. Selalu saja aku memunculkan tampilan positif dalam kondisi apapun saat berinteraksi dengan orang, walaupun kadangkala beratnya hempasan gelombang rasa tak sanggup aku sembunyikan dalam tampilan nyata.

Munafikkah aku saat menyembunyikan rasa negatif diriku? Terserahlah.. yang pasti kutak ingin kesedihanku membuat orang lain sedih, kelelahanku melahirkan peluh di kawanku, kesakitanku mengaduhkan sahabatku, atau kesulitanku menghambat laju rekanku. Semua kupendam sendiri, karena bagiku menyebarkan aura negatif, sama saja membuat orang lain menderita dan itu DOSA... Biarlah air mata hanya mengalir deras dalam pelupuh hatiku, asalkan jangan membanjiri pipi orang disekitarku.

Mengingat pertanyaan adik tingkatku, seperti merekonstruksi labirin kenanganku atas jawab yang pernah kulontarkan padanya dulu. Semoga saja hal itu sekaligus menjawab gejolak batin yang kurasakan kini.

Berikut beberapa serpihan hikmah yang pernah saya utarakan untuknya :

Neng... – biasanya kupanggil dia dengan nama, tapi kutulis saja ’neng’ dalam tulisan ini – tak ada seorangpun yang lepas dari masalah, setiap manusia pasti pernah merasakan rintangan, tapi semua itu tak akan melampaui kemampuan kita sebagai manusia. Kalaupun ada yang tidak kuat dan putus asa menghadapi masalah, yang jelas bukan karena masalahnya yang terlalu besar, melainkan dia membatasi kemampuan dirinya dalam melalui masalah.

Neng... masalah adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, bukankah Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan? Nah, masalah ada salah satu pasangan hidup kita, yang juga dipasangkan dengan solusi dalam hidup. Jadi, masalah pasti datang datang pada kita,tapi selalu disertai pasangan nya yang setia yaitu Solusi.. jadi tugas kita adalah menjadi Comblang dari Masalah.. untuk dikawinkan dengan Solusi.

Neng... semua dalam hidup kita tergantung pada sudut pandang dan tindakan kita terhadapnya. Cara pandang kita menentukan apa yang akan kita lakukan, dan apa yang kita lakukan menentukan hasil yang akan kita raih. Jika kita berpandangan negatif, maka tindakan kita akan negatif, hasilnyapun tak pernah berakibat positif.

Untuk itu, cobalah mulai merubah sudut pandang kita..! jangan lagi berkata ’susah’ tapi ’ini tantangan yang menarik’, hindari ’saya tidak bisa’ gantilah dengan ’saya akan mencoba’, bukan ’gagal’ tapi ’keberhasilan masih tertunda’..

Neng... semua penderitaan yang kita rasakan akibat ulah kita sendiri, lebih menyakitkan jika penderitaan itu muncul dari salah pandangan mata. ’melihat pada yang lebih tinggi dalam urusan dunia, memandang pada yang lebih rendah dalam urusan agama’ adalah pintu gerbang penderitaan yang pertama...

Neng... Jangan sesali apa yang kau raih, tapi syukuri..! sebab, hanya keledai yang selalu menganggap bebannya terberat dan hidup orang lain lebih nikmat. Jangan ikuti mereka yang menganggap rumput tetangga lebih hijau, rumah orang lebih megah. Sebab semuanya kembali kepada kepuasan diri. Dalam pepatah Arab pernah dituturkan ”idzaa maa kunta dza qolbin qonuu’in, anta wa maaliku ad dunya sawaaun – kalau hati kamu merasa puas, maka anda telah menjadi raja di dunia ini”

Neng... kalau mau jujur, neng pasti bingung kenapa neng menderita dan tak merasa senang saat ini. Semua ini karena kita sering menganggap masalah pada sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan. Apalagi jika masalah yang muncul diakibatkan rasa dengki pada orang lain, bukankah kedengkian itu melahap rakus setiap kebaikan layaknya api unggun yang melahap habis kayu bakar

Neng... seringkali kita sangat dekat pada Tuhan saat kita merasa menderita, dan menjauh saat kita gembira, konyolnya itu dilakukan terus menerus. Tak ada salahnya anda dekat pada Tuhan, hanya saja ketidak konsistentan anda lah yang salah.

Neng... kadang kita juga merasa kesal pada Tuhan, karena merasa DIA tidak adil, atau lelah karena permintaan kita tak pernah dikabulkan padahal setiap saat kita mengetuk pintu kabul-NYA. Camkanlah neng.. ”Andaikan saja semua doa kita dikabulkan Tuhan, maka yang terjadi tidaklah lagi kemaslahatan. Tidak semua ketulusan doa kita dikabulkan Tuhan, tapi yakinlah bahwa apa yang ditakdirkan Tuhan adalah yang terbaik menurut-Nya untuk kita.”

Neng... bukankah kita ini dibesarkan oleh masalah? Kita bisa bertahan hidup karena pernah merasakan sakit yang sukses kita lalui dan menjadi imun terhadap sakit yang sama. Masalah yang kita hadapipun membuat kita lebih tegar dan sukses menghadapi masalah yang sama. Walaupun pada kenyataannya banyak yang terjeblos pada lubang yang sama berkali-kali, tapi bukankah Tuhan selalu memberikan kita kesempatan untuk memenangkan perhelatan itu? Memang sich kita seperti keledai jika selalu terjebak dalam kesalahan yang sama berulang-ulang, tapi itu lebih baik ketimbang menjadi semut yang mati di gudang gula.

Neng... perubahan dalam hidup itu tidak ada yang sekejap, semuanya datang secara bertahap dan alami, bersabarlah meraih perubahan dalam hidup, sebab semakin kita sabar semakin baik hasil yang kita perolah. Seperti halnya kerang mutiara yang harus menahan sakitnya tusukan batu pasir di rongganya, kesabarannya membuahkan mutiara indah yang mahal. Atau layaknya keramik indah yang harus menahan derita hempasan, pukulan, pembakaran dan pengecaran yang memuakan, hasilnya sebuah guci keramik yang indah berharga mahal. Atau intan berlian, rubi, mirah delima, emerald, dan batu mulia lainnya yang harus dikikir dan digosok untuk menemukan keindahan sejati yang terpendam di dalamnya.

Neng... penderitaan itu hanya datang bagi mereka yang obsesif dan tak bersyukur. Mereka disiksa oleh dahaga nafsu yang tak pernah terhapuskan. Satu gunung emas mereka miliki, tak cukup membuatnya bahagia sebelum dua,tiga,empat bahkan seluruh dunia mereka miliki, selama itu pula mereka tak merasa bahagia dan menjadi budak bagi keinginannya sendiri.

Neng... mereka yang bahagia adalah mereka yang merasa puas dengan apa yang mereka miliki, kendati mereka tak memiliki apa-apa – hati yang puas itulah harta berharga yang tak terbeli oleh apapun kecuali meraihnya sendiri. Sebaliknya mereka yang mempunyai segalanya tapi tak puas karena ingin meraih segala keinginan, sesungguhnya merekalah orang yang paling menderita.

Neng... hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dengan derita dan air mata. Terlalu mubazir jika energi kita habis untuk kesia-siaan. Bukankah manusia yang terbaik adalah mereka yang paling banyak berkontribusi bagi kehidupan orang lain. Untuk itu, segera benahi diri kita, untuk berbuat bagi kehidupan dunia yang lebih baik.

Neng... hidup ini mudah, jadi buat apa dipersulit, nikmati sajalah... Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti Lillahi Ta’ala.

Mhmmm terkuak sudah resep penyembuh gundahku malam ini. Kini, kubisa menutup mata dengan ringan, kubisa pejamkan mata dengan keteduhan, tak ada beban, tak menanggung hutang, tak bergundah gulana, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang indah, atau paling tidak, tidurku akan dihiasi mimpi yang indah.

Generasi Penikmat

Generasi Penikmat

Makasar, 21 Feb 2008, 23.20WITA

Mamaku bilang,

Hidupnya penuh perjuangan

Kegigihan menjadi napas tak terelakan

Hidupnya kini berkat kerja keras tiada lekang.

Bapakku bertutur,

Sejak kecil beliau hidup prihatin,

Keharusan bertahan hidup,satu-satunya bahan bakar

Suksesnya kini berkat usaha tiada letih.

Nenekku berkisah,

Di masanya dulu, tak semudah sekarang

Semua diraih dengan ketekunan

Tak ada keterpaksaan, sebab dengan itulah ia bertahan.

Kakekku menitipkan cerita,

Dirinya lalu, tak seperti di zamanku kini,

Keyakinan menciptakan ketegaran,

Ketegaran dipadukan kesungguhan,

Itupun mesti berkemampuan,

Kendati tak berdaya, rintangan dapat terelakan.

Menurutku kini,

Zamanku masa menikmati,

Tak mesti bertaruh hidup dan mati,

Semua tinggal menduduki.

Zamanku kini masa yang hampir mati,

Tak menumbuhkan hanya menuai hasil,

Tak menjaga hanya menggerogoti,

Tak membangun hanya mencerabuti.

Zaman ku kini generasi lupa diri,

Putus asa tak kuasa diri,

Menjilati tak tahu diri

Menikmati tak jaga diri,

Mencerabuti tak kenal diri,

Mengoreki tak ukur diri,

Tak sadar maka mengubur diri.....

Dasar generasi penikmat..!

Hujan

Hujan

1 November 2006

Hari ini adalah pembuka bulan november, saya jadi teringat dengan tembang lama berjudul “November Ceria” yang -- kalau tidak salah -- dilantunkan oleh Vina Pandu Winata. Ternyata banyak orang yang merasa optimis bahwa di bulan ini orang akan meraih kehidupan lebih baik, apalagi hari ini ternyata disambut dengan Hujan lebat yang selama ini sudah dinantikan orang. Betapa tidak, tahun ini hampir seluruh wilayah Indonesia didera kekeringan, termasuk di Bogor yang terkenal dengan Kota Hujan.

Kekeringan di Indonesia memang telah merugikan banyak pihak, terutama para petani yang harus menangguhkan penanaman padi dan tanamannya, sehingga nyaris tak ada penghasilan bagi mereka, belum lagi harga beras yang tidak memihak pada petani telah menambah beban hidup mereka. Dasyat benar memang kekeringan di tahun ini, bahkan di rumah sayapun harus membayar orang untuk mengangkut air guna memenuhi hajat hidup di rumah.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar… kekeringan ini rupanya telah membuat beberapa dari kita tidak sabar – semoga saya tergolong dalam orang yang sabar. Banyak yang Mencaci dan mamaki keadaan ini, padahal betapa nikmat Allah begitu banyak pada kita, tapi kita kurang mensyukurinya, baru sekedar kekurangan air saja banyak manusia yang sudah mencaci dan memarahi Tuhan.

Coba kita renungkan, setiap detik, terdapat nikmat Tuhan yang tak terhingga buat kita, dan kita tidah mensyukurinya. Ini ibarat pepatah “susu sebelanga rusak oleh nila setitik” atau juga relevan dengan “gajah di pelupuk mata tak terlihat, kuman diseberang lautan dapat terlihat”. Jadi mulai saat ini sadarlah bahwa kita harus segera bersujud syukur atas limpahan nikmat yang tiada henti dan tak terhingga, juga meminta ampun atas kekhilafan yang kita lakukan.

Kisah 2 Pohon

Kisah 2 Pohon

17 November 2006

Di tengah padang ada 2 pohon, 1 pohon bunga indah sekali, 1 pohon rindang berbuah tapi tidak indah, ketika pagi hari, ada yang datang dan melihat 2 pohon itu. Ia serta merta menghampiri bunga itu, memandanginya takjub. Tanpa terasa matahari semakin tinggi dan panas, akhirnya mau tak mau ia lari mencari perlindungan, kemana ia lari ? kenapa harus ke sana?

Jawabnya:

“yang datang” itulah wanita, “2 pohon” itulah 2 orang pria dengan 2 kondisi yang berbeda, “Matahari” itulah realita hidup yang wanita jalani, “pada akhirnya” begitulah akhirya…..

inilah SMS yang aku terima dari Guruku yang tak hanya ingin kuanggap sebagai teman, inilah realita hidup yang ia jalani, dan selama ini amat berbekas dalam setiap langkah yang ia jalani, bagiku Fifty-fifty yang bisa kuterima sebagai bagian kebenaran dari pemikirannya.. selebihnya, ternyata masih banyak ‘bidadari surga’ yang siap menemani kita apa adanya…. Menuju kehidupan bahagia dunia dan akhirat…